Gagal Fokus Hardys Group Pailit

Gagal Fokus Hardys Group Pailit



   PERS (Bali) -  Kisah tragis PT Hardys Retailindo yang kini telah dipailitkan melalui voting dari para kreditur di pengadilan negeri Surabaya, dinyatakan bahwa per-tgl 9 November 2017, dengan sebelumnya melalui putusan PKPU tgl 25 September 2017, Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Surabaya telah memutus Perkara Penundaan Pembayaran Utang (PKPU) Grup Hardys Holding dan Hardys Retailindo. Ritel moderen di Bali itu dinyatakan pailit.
   I Gede Agus Hardyawan (Agus Hardy) sebagai pemilik PT Hardys Retailindo gagal membayar hutang yang telah jatuh tempo kepada para kreditur.
  Dalam jumpa pers di kantor Hardys Corp di Perumahan Bypass Garden, Sanur, Agus Hardy didampingi sang istri Ketut Rukmini Hardy, menjelaskan, di tingkat internal, Hardys terlalu ekspansif mengembangkan outlet.
    Diterangkan , Saat ini, Hardys memiliki 12 lahan yang luasannya mencapai 5 hektar hingga 14 hektar di setiap lokasinya. Namun prediksi mengejar Initial Public Offering (IPO) Hardys Retail di tahun 2020 akhirnya kandas. Properti anjlok “Hardys Land” mangkrak ditengah jalan.
 Untuk diketahui, 70 persen pembiayaan bisnis Grup Hardys bersumber dari dana bank, dengan 50 Bank kreditur dan kreditur koorporat, yakni Vendor maupun Suplier. Dan Agus Hardy baru menyadari bahwa proporsi investasi 70 – 30 tsb sangat berbahaya. Sedikit saja salah dalam perhitungan pasti akan gagal bayar seperti yang dialaminya saat ini.
   Agus Hardy menuturkan, sesuai perhitungan bank, Asset akhir Hardys kini senilai Rp 4,1 trilyun dengan tanggungan hutang Rp 2,3 trilyun. 13 outlet termasuk Brand hardys telah diakuisisi oleh PT Arta Sedana Propertindo pada Desember 2016.
   “Kejadian ini akan sangat memberikan pelajaran berharga buat kami secara pribadi, keluarga maupun manajemen perusahaan,”yang telah kami bangun selama 20 tahun.
   Faktor eksternal, juga ikut mempengaruhi menurunnya kinerja perjalanan bisnis ritel ; bisnis ritel online semakin berkembang, otlet mart menjamur, perubahan gaya hidup dari belanja menjadi jalan-jalan dan tingkat ekonomi yang mengalami penurunan global.
    Jika semua kewajiban hutang telah direcafree, dan Ia mengharap bank akan menjual asset Hardys dengan harga yang baik, sehingga masih ada sisa, hingga bisa bangkit lagi kedepan, ia berencana kedepan untuk menggarap pasar online dengan merancang bisnis e-grocery, dan akan tetap mempertahankan Brand Hardys, Sadar sebelumnya ia terlalu sibuk dengan mengembangkan bisnis offline. Sementara, persaingan yang ada sekarang selangkah lebih maju telah merambah bisnis online.
   “Kami terjungkal karena tidak focus”.  Demikian jumpa pers keluarga besar Hardys.
 (Krg-22 Nopember 2017).

Pers Indonesia