Sejarah Keberadaan Pura Pasatan Pohsanten Jembrana

 

 
 

Sejarah Keberadaan Pura Pasatan Pohsanten Jembrana


    PERSINDONESIA.com - Purana Pura Kahyangan Jagat Pasatan Pohsanten Mendoyo Jembrana mengisahkan bahwa, sejarah pura ini berawal dari Ida Bhatari Ulun Danu Batur meyoga di puncak gunung Mesehe,Ida ini bergelar Ida Bhatari Wana Cakra Werti, dari tempat meyoga itulah muncrat dua mata air diantaranya,(1)mata air dingin yang mengalir ke arah selatan, dan (2)mata air panas yang mengalir ke arah utara.
    Ida Bhatari Wana Cakra di anugerahi dua putra beliau ; (1)Ida Dukuh Sakti Lacekan, dan (2)tidak ditemukan namanya.
Dari kedua putra itulah Ibundanya memberikan anugerah atau paica berupa pohon andong yang mempunyai artian ; antar dan dong adalah mahasakti, dan paica selanjutnya berupa pohon palawa yang mempunyai arti ; pa adalah pinget dan lawa adalah orang tua.
   Jadi makna dari paica tersebut dapat di artikan kalau nantinya putra dari Ida Bhatari Wana Cakra Werti turun dari puncak gunung Mesehe nantinya terdapat sebuah batu di atas bukit diapit dengan pohon andong dan pohon palawa maka tempat itu akan menjadi tempat yang suci untuk memujanya.

   Pada babad Ida Dang Hyang Dwijendra menuju pulau Bali, di ceritakan pula dalam purana Pura Pasatan bahwa, sesampainya beliau dengan sanak keluarganya di hutan Pasatan di ceritakan bahwa beliau menemukan sebuah gowa dan beliau masuk ke dalamnya, setelah sampai di dalam beliau menemukan telaga yang berisi tumbuhan bunga tunjung yang memiliki tiga warna diantaranya merah,hitam dan putih.
Bunga tunjung itu dipakaikan di telingaNya dan ada juga yang di pegang sambil keluar dari gowa tersebut,sesampai diluar anak-anak Ida Dang Hyang Dwijendra terkejut mereka tidak mengetahui kalau itu adalah ayahnya, mereka berlari ketakutan dan menghilang, maka dari itu dang Hyang Dwijendra mencari cari keberadaan anak-anaknya, sampai beliau menemukan batu diatas bukit dan di sana beliau melakukan semadi, di anugerahkanlah petunjuk bahwa anaknya itu berada di balik bukit.
   Setelah di ketemukan, Ida Dang Hyang Dwijendra mengeluarkan bisamanya bahwa tempat itu akan menjadi payung teduh untuk memuja Ida Dewi Ulun Danu yang berlambangkan merta dan kesejahteraan bagi umat dan jagat raya ini.

    Setelah babad dari perjalanan Ida Dang Hyang Dwijendra menuju Bali, adapula didalam purana Pura Pasatan ditulis dan diceritakan mengenai keterkaitan Pura Pasatan dengan kerajaan Jembrana.
     Ketika keturunan dari raja Jembrana melaksanakan semadi di Pura Taman Sari Batuagung Jembrana, beliau mendapatkan petunjuk untuk mencari sebuah tempat suci menuju arah utara ke timur atau bahasa Balinya itu adalah ngaje nganginan untuk melakukan semadi memohon anugerah seorang putra, dan saat itulah Anak Agung Made Ngurah bergegas bersama para pengiringnya sambil berburu dan beliau menemukan tempat itu berisi batu dan di sanalah beliau semadi.
   Setelah semadi beliau kembali ke puri dan saat itulah istri beliau mengandung yang kemudian lahirlah seorang putra yang di beri nama Anak Agung Putu Pasatan.
     Beliau merupakan anugerah Ida Bhatara yang beristana di Pura Pasatan Pohsanten Jembrana.

   Jro mangku lingsir Partini(75)sebagai pemangku di pura ini saat di wawancarai mengatakan bahwa beliau sangat berharap kedepannya pura ini semakin dikenal luas oleh umatnya beliau juga berharap kedepannya bersama-sama untuk menjaga dan memelihar pura ini agar keberadaannya ajeg dan suci sesuai dengan keyakinan bahwa pura ini sebagai lambang merta untuk kesejahteraan seluruh umat manusia di jagat raya ini,ungkapnya

   Begitu pula tokoh pengempon Ketut Bagiana(60)beliau mengatakan sangat berterima kasih kepada para pendana punia di pura ini yang sudah membantu proses tahap demi tahap program renovasi dari pura pasatan ini sudah berjalan dengan baik dan beliau berharap pihak pemerintah dan masyarakat pada umumnya nantinya agar selalu ikut memperhatikan keberadaan dari pura tersebut yang keberadaannya dari pura ini di banjar Pasatan desa Pohsanten kecamatan Mendoyo Jembrana.
   Namun untuk akses jalan dari selatan menuju pura belum bisa dikategorikan layak untuk dikatagorikan akses Pura Dang Khayangan, beberapa warga mengharap kepada pihak pihak tertentu/pemerintah untuk tanggap serta membantu perbaikan jalan , minimal berupa rabat beton.  (Gung&tim)
 
 
 

 

 

 
Pers Indonesia