Gubernur Koster: Bendasa Adat Terpapar Dengan Budaya Luar Sebaikanya Mengundurkan Diri

Diposting pada

Persindonesia.com Gianyar – Bendesa jangan sampai ada nilai lain menggerus adat kita di Bali, kalau bapak Bendesa sampai terpapar sebaikanya mengundurkan diri.

Hal tersebut diungkapkan Gubernur Bali I Wayan Koster usai meletakkan batu pertama pembangunan gedung Majelis Desa Adat (MDA) di jalan Kesatrian Gianyar. Selasa (18/8/2020).

Gubernur Koster mengatakan, perkuat desa adat, bentengi diri serta para Bendesa Adat harus kokoh, jangan biarkan berkembangnya unsur-unsur yang dapat merusak adat budaya Hindu Bali.

“Saya minta semua Majelis sampai Bendesa, jaga desa adat ini baik-baik, sudah ada keputusan Majelis Desa Adat Provinsi Bali, tentang kaitannya dengan pengaruh luar, ada sampradaya itu tidak bisa, silahkan baca (keputusan Majelis Desa Adat Provinsi Bali),” jelasnya.

Jangan biarkan unsur-unsur budaya luar merusak budaya kita, suatu saat nanti biasa hancur budaya leluhur kita sendiri dan Bali kedepan.

Lanjut Koster, jika sudah terpengaruh bisa-bisa tempat suci (sanggah) dibongkar karena tidak lagi memuja leluhurnya, tidak boleh sembahyang (mebanten) tidak boleh mengadakan Hari Raya Galungan, Kuningan, buat babi guling semua itu Bali akan tinggal nama saja,

“Saya memuji sikat semeton Bali yang toleransinya sangat tinggi, tapi kita harus waspada menjaga sejumlah hal yang bersifat prinsip,” ucapnya.

Hati-hati, jangan sok toleran, sok longgar, ingat di tengah toleran ada hal prinsip harus kita jaga seketat-ketatnya tidak boleh dibuka.

Bendesa harus serius, saya mohon karena kita sedang dirongrong sekarang ini, saya mohon perhatikan betul, ikuti keputusan majelis desa adat Provinsi Bali, jalankan di wewidangan masing-masing,“ pintanya.

“Ingatkan apa yang disampaikan oleh Presiden Soekarno, jika menjadi Hindu, jadilah Hindu nusantara. Kita di pura jalankan upacara keagamaan ke Bhatara dengan dresta adat istiadat masing-masing di desa, gunakan itu jangan ikut yang lain,” tegasnya.

Ia juga menegaskan bila ada bendesa adat di Bali yang terpapar aliran di luar budaya Bali, agar mundur sebagai bendesa adat.

“Kalau kena corona masih bisa dirawat di rumah sakit, kalau ini sampai kena bisa hancur adat budaya kita,” tutup Gubernur Koster. Red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *