Dwikora Putra: Wartawan Harus Sopan Luwes Bekerja Sesuai Kode Etik Jurnalistik Berdasarkan UU Pers

    0
    18

    Persindonesia.com Denpasar – Wartawan harus sopan luwes dan berwawasan luwas, bekerja berdasarkan Kode Etik jurnalistik dan UU Pers. Wartawan juga harus berperilaku sopan dan berdisiplin Karena akan berpengaruh terhadap narasumber dan dirinya sendiri

    Hal tersebut di jelaskan oleh Ketua PWI Bali ,GN Dwikora Putra dalam Orientasi anggota dan Karya Latihan Wartawan ( KLW) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Bali Tahun 2020 dengan Tema “Pers Bermutu Bangsa Maju”.

    Hadir juga Ketua Dewan PWI Bali I Nyoman Wirata. Kegiatan Orientasi anggota dan KLW Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di hadiri sebanyak 106 orang hadir, kebanyakan berasal dari jurnalis muda baik cetak dan online yang ada di seluruh Bali. bertempat di Gedung PWI Bali. Jumat, 28 Agustus 2020.

    Dalam sambutannya Ketua PWI Bali, GN Dwikora Putra mengatakan, Wartawan harus sopan luwes dan berwawasan luwas, bekerja berdasarkan Kode Etik jurnalistik dan UU Pers. Wartawan juga harus berperilaku sopan dan berdisiplin Karena akan berpengaruh terhadap narasumber dan dirinya sendiri, ucapnya.

    Sementara itu Dewan Redaksi Persindonesia.com Ida Bagus Sudiarta yang juga wartawan penulis terbaik di Bali tahun 1985 dan penerima Anugerah Jurnalistik oleh PWI pusat tahun 1995 saat seusai menikuti program Orientasi Anggota dan Karya Latihan Wartawan/KLW PWI Provinsi Bali Kode Etik mengatakan, jurnalistik merupakan kode etik profesi sehingga wartawan harus kerja profesional. Memahami hak narasumber harus disepakati SPT off the record.

    Dalam UU pers thn 1999, wartawan dalam menyiarkan kasus anak jangan terlalu vulgar. Wartawan harus paham dengan narasumber. Anak dibawah umur 18 tahun harus ada pendamping dan narasumber dari Komisi perlindungan anak dan sumber sumber resmi kepolisian atau rumah sakit dan yg terkait,” jelasnya.

    Perhatikan inisialnya dalam korban kriminal seksual khususnya. Wartawan mengedukasi masyarakat hal hukum dalam hal ini korban dan pelaku. Jangan vulgar dalam mengungkapkannya.

    Kalau ada pelanggaran akan disidangkan Dewan Pers. Jaga hubungan baik dengan narasumber sehingga saat ada kepentingan ada kedekatan akses dengan narasumber. Bahasa atau cara yang digunakan dalam membahasakan dan menuangkan kata-kata baik kepada narasumber atau pembaca atau masyarakat.

    Jangan sampai ada wartawan bersandal jepit dalam melakukan liputan di lapangan. Wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang dan tidak beretikad buruk.

    Wartawan Indonesia tidak menyebutkan dan menyiarkan identitas korban kejahatan susila dan tidak menyebutkan identitas anak yang menjadi pelaku kejahatan.

    Wartawan Indonesia tidak menyalahgunakan profesi dan tidak menerima suap. Memiliki hak tolak, untuk melindungi narasumber yang tidak bersedia diketahui identitas atau keberadaanya, menghargai ketentuan embargo, informasi latarbelakang, dan “off the record” sesuai dengan kesepakatan.

    Wartawan Indonesia tidak menulis atau menyiarkan berita berdasarkan prasangka atau diskriminasi terhadap seseorang atas dasar perbedaan suku, ras, warna kulit, agama, jenis kelamin dan bahasa serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa atau cacat jasmani.

    Wartawan Indonesia menghormati hak narasumber tentang kehidupan pribadinya, kecuali untuk kepentingan publik. Jika ada berita yang keliru dan tidak akurat wartawan segera mencabut, meralat, dan memperbaiki berita yang keliru disertai dengan permintaan maaf kepada pembaca, pendengar, dan atau pemirsa.

    Wartawan Indonesia melayani hak jawab dan hak koreksi secara profesional. Itulah poin penting yang harus dilakukan wartawan di lapangan dalam peliputan. Tim

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here