Kepala Kesdam IX Udayana Sediakan Pusat Informasi hindari berita Hoaks soal Vaksin Covid-19

Diposting pada

 

 

 

Persindonesia.com Denpasar – Informasi bahwa vaksin Covid-19 yang akan segera tiba di Bali dibenarkan Kepala Kesehatan Kodam IX/ Udayana, Kolonel Ckm dr. I Made Mardika, Sp. PD., MARS. Saat dikonfirmasi pada Senin (4/1/2021) di ruang kerjanya, dia menyebut penyaluran vaksin dilakukan melalui transportasi darat.

Naas Mobil Travel ELF Terbakar Di Situbondo

Sebanyak 31 ribu sudah didistribusikan, secara bertahap dari daerah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali. Sekarang masih di Jawa Tengah,” terangnya. Setelah tiba di Bali, vaksin jenis Sinovax itu langsung dikirim menuju Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Jl. Melati, Denpasar.

Vaksin itu kemudian akan disimpan di ruangan pendingin dengan suhu -2 hingga – 8 derajat celcius. Kolonel Mardika menerangkan pihaknya menyediakan pusat informasi melalui nomor telepon 082125252500, dan akun sosial media.

Peduli Kemanusiaan PD XXIX FKPPI Kep. Babel Bersama AITI dan BPBD Bagikan Masker

Layanan pusat informasi tersebut untuk mengakomodir informasi yang menyimpang dan hoaks.

Melalui layanan ini, dia mengajak masyarakat yang membutuhkan informasi tentang vaksinasi dapat memanfaatkan layanan tersebut.

Perintah Pangdam IX/ Udayana, buatlah outline, agar masyarakat atau orang-orang yang belum tahu tentang vaksin dan mencegah adanya berita-berita yang tidak jelas. Sebagai dokter spesialis penyakit dalam saya akan menjawab dengan jelas setiap keluhan dan pertanyaan” tegasnya.

Gubernur Koster Turut Ikuti Peluncuran Bantuan Tunai se-Indonesia secara Virtual

Pada penyaluran tahap awal ini, dia menyebutkan vaksin ini akan diprioritaskan pada tenaga kesehatan.

Meliputi tenaga kesehatan TNI, Polri dan Dinas Kesehatan Provinsi Bali.

Tentang vaksin yang akan tiba merupakan jenis Sinovax yang diproduksi oleh Tiongkok (Cina).

Vaksin ini telah melalui tahapan uji coba, salah satunya oleh PT. Bio Farma dan telah dinyatakan layak untuk disuntikkan. “Kalau tidak lolos uji klinis, tidak mungkin dipakai,” tutupnya. (Yadi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *