Wilayah Suku Baduy Hingga Kini Nol Kasus Corona, Berkat Aturan Adat

Diposting pada

Persindonesia.com Banten – Sudah berpengalaman menjalankan isolasi mandiri sebelum istilah ini ngetren, Suku Baduy di Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, Banten, diberitakan sukses menjaga kelompoknya dari wabah Covid-19. Hampir setahun sejak kasus pertama diumumkan, tak satu pun anggota Suku Baduy tertular.

Petugas Puskesmas Lebak Iton Rustandi menyebut salah satu alasannya karena tetua adat meminta masyarakat tidak meninggalkan desa, khususnya untuk pergi ke DKI Jakarta, Tangerang, dan Bogor.

Header

Resep Mudah : Telur Bumbu Gulai, Cara Nikmat dan Praktis

Iton mengklaim masyarakat Baduy rajin memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan. Suku Baduy sejak lama enggan memiliki banyak urusan sama “dunia luar”, karena kebanyakan aktivitas mereka di rumah dan ladang pertanian. Masih menurut Iton, pihaknya rutin membagi ribuan masker dan menyemprotkan disinfektan, bahkan mendirikan wastafel di gerbang masuk kawasan Baduy agar para wisatawan bisa berkunjung dalam keadaan bersih.

Kepala Desa Kanekes Jaro Saija membenarkan bila warga Baduy dilarang keluar daerah selama pandemi. Warga yang sempat merantau bahkan diminta segera pulang.

PPKM Jawa – Bali Diperpanjang Lagi Hingga Dua Pekan Mendatang

Sekilas info biar bagi yang ‘roaming’: Suku Baduy, atau Urang Kanekes, adalah masyarakat adat yang tinggal di kaki pegunungan Kendeng di Desa Kanekes, 40 kilometer dari pusat kota Lebak, Banten. Masyarakat di dalamnya terbagi jadi tiga kelompok, yakni Baduy Dangka, Baduy Luar, dan Baduy Dalam.

Baduy Dangka adalah orang Baduy yang sudah menyesuaikan diri dengan modernitas, tidak terikat adat istiadat, dan menerima pendidikan serta menggunakan teknologi modern. Baduy Luar masih tinggal di tanah adat dan menganut kepercayaan Sunda Wiwitan, namun sudah mengenyam pendidikan dan melek teknologi. Sedangkan Baduy Dalam tinggal di tanah adat, serta menolak pendidikan maupun teknologi.

Patung Mirip Pretima Ditemukan Warga Sekitar Bendungan

Dalam menjalankan sistem pemerintahan, Suku Baduy memadukan aturan negara Indonesia dengan sistem adat. Misalnya, mereka punya kepala desa (saat ini diisi Jaro Saija yang kami sebut di atas) sebagai simbol pemerintahan, tapi juga punya tetua adat yang berperan dalam keputusan-keputusan komunal. Dilansir dari berita vice Indonesia. (ED27)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *