Petani Salak Gatri Penyaringan Menjerit Akibat Pandemi Covid-19 dan Cuaca Ekstrem

Persindonesia.com Jembrana – Pandemi Covid-19 memang sangat berdampak kepada pariwisata, bukan hanya pariwisata tetapi dampaknya sangat dirasakan oleh para pedagang, yang sebelumnya lancar pemasukannya sekarang mereka mengalami penurunan drastis penghasilannya.

Sama halnya seperti Maskot Desa Penyaringan yang dikenal dengan Salak Gatri, penjualannya menurun, dari sebelum corona penjualannya sangat rame sehingga kewalahan, sehingga bisa menamatkan anak-anaknya sekolah dan lanjut ke jenjang kuliah. Senin (22/02)

Sentra Wisata Kuliner Rawan “RAYAP” ElPiJi

Petani kebun salak gatri yang bernama I Made Sunarya (61). dari Banjar Tibu Beleng Tengah, Desa Penyaringan, Kecamatan Mendoyo, memanfaatkan lahan kebun nya seluas 60 are dengan jumlah 1000 pohon, nama dari salak gatri diambil dari nama almarhum orang tuanya.

“Masalah produksi salak gatri ini sebelum corona kami bisa menjual rata-rata perhari sebanyak 80 kilo dan perkilo seharga 10 ribu rupiah, sehabis kena corona penurunan terjadi sehingga saya juga menurunkan harga ditambah lagi cuaca yang ekstrim penurunan produksi pun menurun,” ungkap pemilik kebun salak I Made Sunarya.

Swastika : Mau Corona Atau Bukan Kalau Sakit Harus Diobati

Ia melanjutkan, sekarang kami hanya bisa menjual rata-rata perhari 50 kilo dengan harga harga perkilo 9 ribu rupiah dan yang membeli juga kebanyakan warga datang langsung ke kebun kami, dan di imbangi juga kami menginformasikan di media sosial untuk tidak kontak langsung akibat virus corona ini.

Sementara itu Kepala Desa Penyaringan I Made Dresta mengatakan, dalam hal ini dengan adanya pandemi Covid-19 ekonomi sangat berdampak sekali di masyarakat, seperti halnya warga kami petani salak gatri juga ikut berdampak penurunan penjualan, sebelumnya kami sudah membuatkan hak paten nama salak gatri ini.

Walkot Jakpus Sangkal Dugaan Adanya Pungli BST, Ketum LSM Gagak: Pejabat Jangan Lindungi Penjahat

“Sebelum adanya virus ini harga perkilo 10 ribu ngambil dilokasi, dan kemudian juga kami sudah kerjasamakan dengan Bumdes sehingga dipasarkan disana, lewat media, keputusan rapat, pemerintah kabupaten maupun provinsi. Akibat dari virus ini pemilik menurunkan harganya menjadi 9 ribu rupiah kalau ditetapkan harganya rasanya belum menjangkau dikarenakan akibat pandemi ini,” ucapnya.

Dresta melanjutkan, dengan adanya diturunkan sedikit banyak pelanggan datang langsung. Dari salak gatri ini sangat berbeda dari strukturnya beda, rasanya juga beda sehingga walaupun mahal dari salak yang lain tetapi ini sangat disenangi oleh masyarakat Jembrana maupun luar Jembrana yang juga datang kesini.

Gubernur Koster Meletakan Batu Pertama Pembangunan Gedung MDA Klungkung

“Kami juga memerlukan bantuan kepada pihak pemerintah kami juga berupaya mengkondisikan menfasilitasi agar disini dibentuk kelompok lagi, agar bisa kami kedepan mencarikan bantuan atau yang lainnya. Disamping itu pula kami juga sudah mengupayakan mengajukan permohonan insfratruktur jalan,” uraiannya.

Lebih jelasnya Dresta mengatakan, kalau disini akses jalan masih rabat 2 sehingga banyak pembeli yang balik tidak berani turun, terkait dengan itu kami sudah mengusulkan ke kabupaten karena ini sudah merupakan jalan kabupaten, mudah-mudah dari kabupaten secepatnya bisa membantu akses jalan entah dirabat penuh atau di hotmik sehingga banyak pengunjung yang datang kesini, tutupnya. (Sub)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *