Menanggapi Berita Salah Satu Media Online Terkait Bahasa” Potongan ” Yang Tidak Mengklarifikasi Objek Sangat Disayangkan, Diduga Tidak Paham Kode Etik jurnalistik

Diposting pada 1 views

BONDOWOSO, Persindonesia – Berita yang ditayang oleh salah satu media online, terkait dengan hiruk pikuk pembuatan id card oleh organisasi persatuan guru ngaji kabupaten Bondowoso yang memakai bahasa ektrem, yang menurut organisasi pengurus guru ngaji kabupaten kurang etis, dan menduga bahwa profesionalitas kejurnalisan oknom wartawan tersebut patut di pertanyakan ?

Masalahnya sesuai dengan UU Pers no. 40 tahun 1999. Seorang jurnalis juga harus berpegang kepada kode etik jurnalis. Dimana salah satu ketentuan dalam kode etik jurnalis dari sepuluh ketentuan yang sudah ditetapkan.

dijelaskan dipoin 3. dalam kode etik jurnalis bahwa wartawan Indonesia selalu menguji informasi,memberitakan secara berimbang tidak mencampur fakta dan opini yang menghakimi,serta menerapkan asas praduga tak bersalah

Perlu difahami secara seksama bahwa memberitakan secara berimbang , itu artinya antara objek dan subjek sama sama diberikan ruang atau kesempatan untuk menyatakan hak hak mereka , sehingga dalam satu seson berita terkuak dan menjadi jelas kronologi dan visi tujuannya sehingga tidak mengakibatkan gagal faham .

Dan hal itu pula menjadi sebuah edukasi dan informasi yang baik untuk publik , namun yang dilakukan oleh salah satu oknom wartawan salah satu media on line Bondowoso hal tersebut tidak dilaksanakan sehingga narasi beritanya pincang, dan tidak berimbang.

Terkait dengan bahasa potongan yang seakan seakan terdengar naif dan kasar memiliki ending yang mendiskreditkan satu pihak yang dalam hal ini adalah organisasi guru ngaji, padahal sebelumnya disaat acara peresmian kantor perguji kabupaten Bondowoso, tahun 2021 bulan maret kemaren, pengurus kabupaten dan korcam serta kordes persatuan guru ngaji sudah bermusyawarah dan menghasilkan kesepakatan bersama untuk melengkapi administrasi menejemen organisasi, yaitu iuran/ infaq pembuatan id card, bukan potongan” kenapa dikatakan bukan potongan, karena ATM dan buku tabungan dipegang oleh mereka para guru ngaji sendiri, sedangkan wacana untuk pembuatan id card guru ngaji oleh organisasi pengurus persatuan guru ngaji kabupaten Bondowoso memang ada biayanya, karena pembuatan id card itu sendiri harus memesan ke percetakan, sehingga terkait infaq dan sumbangan tergantung ke ikhlaskan nya, karena hal ini merupakan kepentingan organisasi bukan kepentingan pribadi sehingga dari segala sesuatu ada bentuk laporan pertanggung jawaban kepada organisasi, oleh karena itu pengurus Guji kabupaten yang beranggotakan 32 orang langsung menanggapi dan mengadakan rapat internal yang hasilnya adalah:

1.untuk infaq dan sumbangan yang 50 ribu dicansel, atau yang terlanjur memberikan sumbangan minta tolong dikembalikan .

2.sampaikan tidak Ada pemotongan dari pengurus guru ngaji

3.untuk pendataan pembuatan id card tetep berjalan tetapi tidak boleh meminta sumbangan sebelum ada intruksi dari koordinator kabupaten /pengurus kabupaten tuturnya dari salah satu pengurus kabupaten. ( Suwarso )

563340login-checkMenanggapi Berita Salah Satu Media Online Terkait Bahasa” Potongan ” Yang Tidak Mengklarifikasi Objek Sangat Disayangkan, Diduga Tidak Paham Kode Etik jurnalistik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *