Kontemplasi Pancasila sebagai Falsafah dan Dasar Negara dalam Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara.

Diposting pada 50 views

Oleh : Sebastianus Bambang Dwianto.

Pancasila sebagai falsafah hidup dan dasar negara sudah menjadi
kesepakatan funding father yang puncak titik kulminasinya pada pembacaan texs Proklamasi oleh Bung Karno – Bung Hatta di Pegangsaan Timur pada tanggal 17 Agustus 1945 yang menyatakan kemerdekaan Indonesia. Ketetapan mencoret 7 (tujuh) kata pada Piagam Jakarta oleh funding father merupakan implementasi sila 4
Pancasila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/ perwakilan. Bahwa kebhinekaan Indonesia multi etnis, Bahasa daerah, agama, budaya menjadi perekat kesatuan dan persatuan bangsa demi mengisi kemerdekaan dengan melaksanakan Pembukaan UUD 1945, UUD 1945, Pancasila , Bhineka Tunggal Ika dan NKRI mutlak harus diterima oleh warga negara Indonesia serta dilaksanakan secara murni dan konsekuen menuju cita-cita yang
telah digariskan oleh funding father masih relevan hingga sekarang.
Tantangan, hambatan dan ancaman Pancasila sebagai filsafat dan dasar negara historisnya sudah teruji kekuatannya misalnya adanya peristiwa pemberontakan DI-TII, pemberontakan PKI oleh Muso, penetapan azas tunggal
Pancasila bagi organisasi kemasyarakat ( Orde Baru ) masih ada penolakan dari sebagian masyarakat menjadi buktinya. Pidato Presiden Ir Soekarno dalam pidatonya dihadapan panitia BPUPKI 1 Juni 1945 menyatakan bahwa Pancasila dapat “diperas” menjadi Tri Sila lalu Eka Sila bahwa inti dan roh Pancasila merupakan keGotong-Royongan warisan leluhur yang mampu menjadi perekat menuju
kemerdakaan bangsa Indonesia , tidak bisa diperjuangkan secara individu, golongan, ras , suku , bahasa, budaya yang menunjukan ke Bhinekaan Tunggal IKa bangsa Indonesia yang terdiri dari 70.000 pulau-pulau merupakan luas wilayah NKRI, Bahwa uraian Pancasila diperas menjadi Tri Sila lalu Eka Sila merupakan usulan
alternative dari Bung Karno, walaupun pada akhir penjelasan pidatonya yang paling cocok adalah Pancasila, dimana pada beberapa waktu lalu tercetus kembali usulan dari beberapa anggota Dewan Pancasila dapat diperas menjadi Tri Sila lalu Eka Sila sehingga terjadi perdebatan pada sidang DPR RI terjadi pro kontra baik para anggota DPR RI maupun di masyarakat.
Pancasila saat sekarang masih diuji ketahanannya dengan adanya narasi dan tindakan intoleransi agama, radikalisme, terorisme, politik indentitas, pemahaman
sempit terhadap nilai-nilai luhur Pancasila, KDRT, perundungan, bahaya narkoba, pornografi , porno aksi dan masih banyak lagi yang mengindikasikan bahwa nilai – nilai Pancasila belum membumi di hati warga negara Indonesia dalam tutur kata dan perbuatan didalam pergaulan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pancasila masih dalam fase Konseptual dan indikasinya masih ada perilaku koruptif di Lembaga eksekutif, legislatif , yudikatif dan masyarakat, politik identitas,
radikalisme, terorisme, intelorensi agama, porno aksi, pornografi, narkotika, gerakan separatisme dan lain -lain yang dapat merongrong eksistensi Pancasila kini maupun masa yang akan datang. Bahwa kesadaran selurus komponen bangsa agar selalu waspada dari pihak internal bangsa maupun kekuatan asing yang berusaha memecah persatuan dan kesatuan Bangsa diperlukan usaha preventif mutlak dilakukan.

Transformasi konseptual-implementasi nilai-nilai Pancasila masih diperlukan perjuangan , kerja keras dari setiap warga negara Indonesia agar implementasi nilai – nilai Pancasila benar-benar membumi secara continue dan berkelanjutan sehingga pilar , arah tujuan dan cita-cita yang termuat dalam pembukaan UUD 1945, Pancasila,
Bhineka Tunggal Ika dan NKRI dapat terwujud. Perkembangan Informasi Tehnologi yang secara masif dipergunakan sebagian masyarakat untuk menyebarkan Hoax dan terbukti dapat membentuk opini bahwa infomasi benar menjadi salah dan
sebaliknya informasi salah menjadi benar dapat menyebabkan gonjang ganjing. pertentangan- konflik di masyarakat dan diperbagai sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu tanggung jawab tersbut
bukan hanya di pikul oleh pemerintah tetapi semua lapisan masyarakat yang masih peduli terhadap Kesatuan dan Persatuan NKRI menuju cita-cita luhur yang termuat dalam Pembukaan UUD 1945, UUD 1945, Pancasila, BhinekaTunggal Ika dan NKRI.

963030login-checkKontemplasi Pancasila sebagai Falsafah dan Dasar Negara dalam Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *