Refleksi Dan Implentasi Penggalian Nilai-Nilai Pancasila Pada Jaman Milenia

Diposting pada 39 views

Oleh : Sebastianus Bambang Dwianto.

Nilai nilai luhur Pancasila pada hakekatnya merupakan nilai-nilai yang telah ada dalam pergaulan dan berkehidupan dalam masyarakat seperti gotong-royong, sikap tepo seliro, guyup rukun,kerjabakti,siskamling, musyawarah yang telah ada sejak jaman leluhur bangsa indonesia. Budaya, adat istiadat dan agama, nilai tenggang rasa, kebudayaan merupakan warisan dari leluhur bangsa Indonesia patut dipertahankan karena dapat menjadi perekat persatuan dan kesatuan bangsa. Pada dewasa ini nilai-nilai tersebut mulai
terdegradasi akibat pengaruh eksternal dan internal,budaya asing, perkembangan teknologi maupun tuntutan ekonomi. Budaya instan sudah merasuki kehidupan masyarakat umumnya dan generasi milenia yang lambat laun dapat meninggalkan nilai-nilai luhur Pancasila yang diwariskan oleh para leluhur bangsa Indonesia. Sifat hedonisme, konsumenisme, budaya instan sikap tidak peduli terhadap kaum marginal, rendahnya sikap solidaritas kepada sesama yang membutuhkan menjadi beberapa faktor yang dapat mengingkari nilai-nilai luhur Pancasila. Dampak positif dan negatif perkembangan teknologi informasi dewasa ini merubah tatanan berkehidupan dan pergaulan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara tidak dapat terhindarkan.

Pancasila yang dijadikan roh kehidupan dan kepribadian bermasyarakat, berbangsa
dan bernegara yang berkepribadian Indonesia sebagai perisai dari pengaruh eksternal
maupun internal sebagai usaha mempertahankan, melestarikan dan mengimplementasikan nilai-nilai luhur Pancasila di jaman milenia ini. Penggalian nilai -nilai
luhur Pancasila dapat mencerminkan nilai-nilai budaya bangsa Indonesia dari warisan leluhur yang patut dipertahankan dan dikembangkan dalam pergaulan bermasyarakat dan berkepribadian bangsa Indonesia. Nilai budaya merupakan suatu upaya manusia untuk
dijadikan pedoman hidup bersama yang tidak tertulis dan salah satu kesepakatan bersama yang diharapkan dapat mampu menjawab persoalan-persoalan yang cukup vital dalam kehidupan manusia. Nilai tersebut merupakan suatu system yang di dalamnya terdiri dari konsepsi yang hidup dalam alam pikiran sebagian warga masyarakat mengenai hal-hal yang harus mereka anggap amat sukar dan penting dalam hidup (Koentjakraningrat, 19972 : 32 ), bahwa nilai budaya akan mempengaruhi pandangan hidup , system normative moral hingga akhirnya pengaruh itu sampai pada tindakan manusia. Menurut Clyde Kluckhaun dan Florence Klucekkhan dalam tulisannya yang berjudul Variation in Value Orientation (1961), membagi 5 masalah mendasar bagi hidup manusia yang menyangkut nilai budaya, kehidupan manusia yaitu :
1. Masalah hakekat hidup manusia
2. Masalah hakekat karya manusia
3. Masalah mengenai kedudukan manusia dalam ruang dan waktu
4. Masalah hakekat hubungan manusia dengan alam semesta sekitarnya
5. Masalah hakekat hubungan manusia dengan sesamanya
Kelima masalah mendasar tersebut masing-masing disertai dengan orientasi nilai budaya yang memiliki kekhususan tersendiri dari masing-masing pendekatan budaya.
Nilai nilai budaya tersebut juga merupakan filosofi umat Hindu Bali yaitu Tri Hita Karana
yaitu hubungan manusia dengan Sang Pencipta, hubungan manusia dengan sesama dan hubungan manusia dengan alam semesta.
Pengenalan dan pemahaman nilai-nilai Pancasila masif dilakukan pada Orde Baru kepada masyarakat termasuk kepada generasi muda bahkan dimasukkan kedalam kurikulum Pendidikan Dasar hingga perguruan tinggi. Pada tahun 1970 an PMP ( Pendidikan Moral Pancasila) salah satu mata pelajaran , tahun 1980 an berubah dengan mata pelajaran PPKN ( Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan ) dan mulai tahun 2000 an berubah menjadi
Pendidikan Kewarganegaraan di kurikulum Pendidikan Dasar dan Menengah. Dengan perubahan-perubahan kurikulum Pendidikan tersebut diatas ada perubahan yang mendasar dan terjadi degradasi terhadap nilai-nilai Pancasila selama pemerintahan orde baru masih pada konseptual dan miskin pemahaman implementasi nilai-nilai Pancasila belum membumi dalam masyarakat baik pada tingkat Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif tercermin dari belum menjadi tauladan dalam tingkah lakunya ,budaya koruptif , tindakan intolenrasi, radikalisme, terorisme
semakin dirasakan mengoyak sendi-sendi moral Pancasila , dimana para Bapak pendiri Bangsa
sudah sepakat bahwa Pancasila, Pembukaan UUD 1945, UUD 1945 dan NKRI menjadi pijakan
dalam pergaulan bermasayrakat, berbangsa dan bernegara. Minimnya tauladan yang
ditunjukkan oleh para tokoh masyarakat, pimpinan Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif
mempengaruhi generasi milenia kurang adaptif terhadap nilai-nilai luhur Pancasila dan tergerus
oleh budaya budaya yang negatif seperti kenakalan remaja, narkoba, tindakan kejahatan,
pornografi dan lain lain. Oleh karena itu diperlukan langkah-langkah strategis dan terukur agar
nilai-nilai luhur Pancasila dapat diimplementasikan dan membumi oleh seluruh komponen bangsa Indonesia agar supaya seluruh masyarakat dapat melanjutkan cita-cita luhur dari pendiri bangsa dengan melaksanakan dan meningkatkan pemahaman yang termaksud di dalam Pembukaan UUD 1945, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI dapat terwujud sesuai dengan perkembangan jaman dan cita-cita Negara Kesatuan Indonesia.

962990login-checkRefleksi Dan Implentasi Penggalian Nilai-Nilai Pancasila Pada Jaman Milenia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *