Nobar Pagelaran Wayang Orang “Pandawa Boyong”, Dandim 0506/Tgr: Pembelajaran Berbangsa Dan Bernegara 

Kodam Jaya, Tangerang,Persindonesia.com – Komandan Kodim 0506/Tgr Letkol Inf Ali Imran menggelar Nonton Bareng (NOBAR) Pagelaran Wayang Orang “Pandawa Boyong”, di Ruang Aula Makodim 0506/Tgr Jl.TMP. Taruna, Kel. Sukasari Kec. Tangerang, Kota Tangerang, Minggu (15/01/2023).

Dalam Nobar tersebut, Dandim 0506/Tgr didampingi Kasdim 0506/Tgr Letkol Inf Ferdin W, Pabung 0506/Tgr Letkol Arm Udin Rasidi, serta di hadiri Para Perwira Staf Kodim 0506/Tgr dan Para Danramil Jajaran Kodim 0506/Tgr

Pagelaran Wayang Orang dengan judul “Pandawa Boyong” dengan Peran Utama Panglima TNI Laksamana TNI Yudo Margono bersama Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit dan 3 Kepala Staf Angkatan.

Dalam cerita Pandawa Boyong, Bima Sema diperankan Laksamana Yudo Margono, Prabu Puntadewa diperankan Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit, Bathara Guru diperankan Kasad Jenderal Dudung Abdurachman, Kasal Laksamana Muhammad Ali berperan sebagai Batara Baruna dan Kasau Marsekal TNI Fadjar Prasetyo sebagai Eyang Abiyasa, sedangkan Dewi Nagagini diperankan oleh istri Yudo Margono, Vero Yudo Margono, yang juga Ketua Umum Dharma Pertiwi.

Dandim 0506/Tgr Letkol Inf Ali Imran menjelaskan, dalam Pagelaran Wayang Orang “Pandawa Boyong” memiliki makna yang sangat luas dan menjadi pembelajaran kita semua ke depan dalam menjaga keutuhan NKRI.

Dijelaskan Dandim, bahwa “Pandawa Boyong” menceritakan, kepindahan seluruh keluarga Pandawa dari negara Wirata ke negara Hastinapura setelah perang besar Barata Yudha selesai.

“Kresna selaku penasihat Pandawa mengadakan sesaji Aswameda secara besar-besaran, mengundang 100 para raja dari tanah Hindi dengan tujuan mengkukuhkan Yudhistira, saudara tertua Pandawa, sebagai raja di Hastinapura.” jelas Dandim.

Ternyata, ini menimbulkan keributan, dimana Raja Gardayaksa dan Raja Gardawara Raja melakukan pemberontakan atas dasar ketidak setujuan jika Yudhistira dinobatkan menjadi Raja Hastinapura dengan mengerahkan prajuritnya mengepung tempat dilaksanakan upacara.

“Di akhir cerita, pemberontakan yang dilakukan kedua raja berhasil digagalkan dan ditundukkan oleh Bima dan Harjuna.” jelas Dandim.

Dari cerita ini, kata Letkol Inf Ali Imran, dapat kita belajar dari perjuangan. Pandawa yang merupakan lambang kehidupan. Disini mengajak kita sebagai bagian dari masyarakat untuk lebih memahami, menghayati, dan mengamalkan semangat serta nilai-nilai Pancasila yang diwakili oleh masing-masing sosok Pandawa Lima.

“Pagelaran Wayang Orang ini merupakan salah satu TNI dalam upaya pelestarian budaya nusantara.” pungkas Dandim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *