Persindonesia.com Jembrana. Beberapa titik yang paling kritis abrasi di kabupaten Jembrana sudah sebagian tertangani yakni Pantai Delod Berawah, Pantai Candikusuma dan Pantai Gilimanuk. proyek senderan di 3 tempat tersebut yang sepanjang 3 km sudah hampir rampung dan hanya menyisakan sepanjang 6 meter, yang akan dilanjutkan tahun depan.
Proyek ketiga tempat tersebut menelan anggaran sebanyak Rp. 40 miliar dari Kementrian PUPR Pusat lewat Balai Wilayah Sungai Bali Penida sudah hampir selesai. Sedangkan titik kritis abrasi di 2 tempat lainnya yakni, Banjar Pebuahan dan Desa Cupel akan dianggarkan tahun 2023 dengan rancangan nilai sebanyak 100 miliar.
Kubangga Riau Desak PJ Bupati Kampar Bentuk Tim
Bupati Jembrana I Nengah Tamba saat pematauan di Gilimanuk mengatakan, terkait dengan proyek revitmen pantai untuk mengatasi abrasi di pesisir Jembrana menurutnya menjadi tanggung jawab Balai Wilayah Sungai Bali-Penida “Sebenarnya balai punya tanggung jawab. Karena ada masyarakat kita disini, apakah kita lakukan penjajakan untuk melihat dampak terhadap warga kita,” terangnya. Kamis (15/12/2022)
Dampaknya sangat positif, lanjut Tamba, masyarakat merasa gembira karena beberapa tahun kemarin gelombang tinggi sempat masuk ke rumah warga. “Untuk tahun depan sudah kami perjuangkan, karena masih ada beberapa titik yang paling kritis abrasi, seperti di Pebuahan hingga merusak rumah warga. Pebuahan Nilai itu Rom 100 milyar 2. Masyarakat dimohon bersabar, semoga bisa di relisasikan tahun depan,” jelasnya.
Makin Lengkap, RSU Negara Miliki Klinik Tradisional
Ditempat yang sama, Kadis Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman (PUPRPKP) Jembrana I Wayan Sudiarta mengatakan, total terdampak abrasi di Jembrana sekitar 71 kilometer, dan yang sudah ditangani dengan melakukan revetmen pantai dengan menggunakan batu armor diantaranya Desa Penyaringan, Kelurahan Gilimanuk, Desa Candi Kusuma, Desa Baluk, Desa Delod Berawah, dan Desa Pulukan,
âDari total yang sudah ditangani itu, masih banyak yang belum mendapatkan penanganan, seperti contoh yang paling kritis itu ada di daerah Banjar Pebuahan, Desa Banyubiru. “Masih banyak belum di tangani, yang paling kritis di Pebuahan. Tahun 2023 kami usulkan Rp. 100 milyar untuk penanganan di Pebuahan sepanjang 2 kilometer, termasuk Desa Cupel 350 Meter,” tutupnya. Vlo






