Gianyar – Desa Mas adalah desa yang berada di kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali. Desa ini berbatasan dengan wilayah Desa Batuan Kaler dan di sebelah selatan, Desa Lodtunduh dan Desa Singakerta di sebelah barat, Desa Peliatan dan Kelurahan Ubud di sebelah utara, dan Desa Kemenuh di sebelah timur. Dengan jumlah kenduduk : 2.525 KK / 11.934 jiwa (berdasarkan catatan sensus 2014) kini diperkirakan sebanyak 3500an KK / 14 000an penduduk, cukup padat dengan luas wilayah: 4,65 km²
Asal mula dari nama Desa Mas di Ubud ini berkaitan erat dengan sejarah perjalanan Dang Hyang Nirartha, seorang brahmana suci dari kerajaan Majapahit yang memilih pindah ke pulau Bali, setelah melihat keruntuhan kerajaan Majapahit semakin dekat. Dang Hyang Nirartha juga dikenal dengan sebutan Ida pedanda Sakti Wawu Rawuh dan Dang Hyang Dwijendra.
Beliau datang ke desa Mas atas undangan dari Mas willis seorang arya dari kerajaan Majapahit yang akhirnya menetap di Bali berikut arya-arya yang lain setelah menang dalam pertempuran mengalahkan Kerajaan Bedahulu yang dianggap lalim. Danghyang Nirartha banyak memberikan wejangan dan pelajaran tentang ilmu agama, sosial dan juga seni budaya kepada Mas Willis.
Setelah semua ilmu dikuasai oleh Mas Willis, Dang Hyang Nirartha melakukan pediksan dan memberikan gelar Pangeran atau Bendesa Manik Mas pada Mas Willis. Dang Hyang Nirartha juga menancapkan sebatang tongkat tinggi untuk memperingati hari tersebut, dan tumbuh sebagai pohon Tangi yang masih hidup sampai sekarang ini. Pohon Tangi tersebut terletak di Pura Taman Pule Mas yang dibangun sekitar abad 18M. Mulai saat itulah desa ini dinamakan desa Mas.

Raden Mas Willis/Bendesa Manik Mas memiliki putri bernama Ayu Kayuan atau Mas Gumitir, yang akhirnya menikah dengan Dang Hyang Nirartha, dari hasil pernikahan tersebut, Mas Gemitir akhirnya mempunyai keturunan yang dinamakan Brahmana Mas dan sampai keturunannya sekarang ini tinggal di Desa Mas. Desa yang kaya sejarah.

Desa Mas Ubud berkembang menjadi pusat kesenian patung dan ukiran kayu yang populer di pulau Bali hingga manca negara, sehingga menjadikannya sebagai salah satu destinasi wisata bagi wisatawan asing maupun domestik.
Daya tarik pulau Bali tidak hanya terbatas dengan keindahan alamnya saja, tetapi juga dengan berbagai jenis hasil kerajinan seni seperti yang bisa jumpai di Desa Mas Ubud, menjadi daya tarik sendiri bagi wisatawan.
Dari rute Patung Bayi Sakah menuju utara maka di sepanjang jalan ini ke arah Utara tersebut merupakan wilayah Desa Mas Ubud. Desa di Bali ini memang sangat populer dan terkenal sebagai tempat produksi patung dan ukiran.

Sebagai pusat pusat seni ukir patung kayu di pulau Bali, di sepanjang jalan desa Mas Ubud terdapat banyak art shop yang menjual berbagai hasil kerajinan seni ukir dan seni patung tersebut adalah kreasi seni bercita rasa seni tinggi yang juga di ekspor ke luar negeri.
Daya tarik desa Mas Ubud sebagai pusat seni patung dan ukir di Bali, membuatnya begitu populer menjadi destinasi tour dan berkembang menjadi desa wisata yang berdekatan dengan sejumlah tempat wisata populer lainnya di kawasan Bali Tengah.
Di desa Mas Ubud juga anda sejumlah penginapan dan hotel.
Bertahun berlalu Desa Mas bagai lupa akan jatidiri penuh dengan kemewahan dolar hingga Pandemi melanda dunia.
Akibat dari Pandemi Covid-19 Desa Mas Ubud Merana ditambah dengan krisis dunia, menjadikan Desa Mas Ubud makin merana.
Kini Pandemi telah berlalu ekonomi mulai bergulir sedikit demi sedikit, suasana yang biasanya sepi kita sudah mulai ramai kemacetan kerap terjadi akibat dari aktifitas padat warga baik dalam keseharian maupun upacara keagamaan, menimang Wilayah Bali tengah seperti Ubud Gianyar terkait upacara keagamaan lebih sering kita jumpai dibandingkan dengan Kabupaten lain.
Hiruk pikuk terlihat ekonomi berjalan normal namun tidak demikian dengan para pelaku usaha di bidang art shop terutama yang biasa mengekspor produknya.
Ekspor sangat anjlok banyak Art Shop yang tutup banyak karyawan yang tidak dikembalikan atau dipanggil bekerja kembali ketika Pandemi usai. Para pengusaha besar dan menengah banyak yang bangkrut, yang bertahan justru usaha sejalan UMK kuliner kecil seperti nasi Jinggo di emperan toko, sedangkan type resto kebanyakan mengulung tikarnya dan menaikkan berbera putih, akibat disita bank.
Namanya Bali, harapan selalu ada, para pengerajin dan pengusaha art shop tetap berharap akan kembalinya kejayaan Desa Mas Ubud yang telah melegenda.

Gs.Krg






