Persindonesia.com Jembrana – Serangkaian Pujawali atau piodalan jelih di Pura Khayangan Puseh Desa Adat Batuagung, Kecamatan Jembrana yang diadakan bertepat di Buda Kulantir atau Rabu 14 Juni 2023 diawali dengan Prosesi nyatur desa, ini dilaksanakan setelah proses nedunan Ida betara, yang dilanjutkan dengan prosesi ngebejian di Pura Taman. Setelah prosesi ngebejian selesai, dilaksanakan nyatur desa yang mengelilingi wilayah 9 banjar adat di desa tersebut.
Bendesa Batuagung, Ida Bagus Komang Mudiastika, saat prosesi nyatur desa mengatakan, Pelaksanaan nyatur desa ini berlangsung seiring dengan berlangsungnya piodalan puseh/desa. “Piodalan ini memiliki tingkatan jelih atau bebangkit utama,” ujarnya.
Polisi Kembalikan 19 Pelajar Hendak Tawuran Kepada Orang tua
Menurutnya, nyatur desa bisa diibaratkan sebagai Ida betara yang mengelilingi desa untuk melihat-lihat keadaan desa tersebut. “Proses nyatur ini dilakukan setelah proses mesucian, di mana iring-iringan berbagai sarana bergerak dari Pura Taman Beji menuju jalanan desa Catus Pata, melalui Bale Agung Desa, dan berakhir kembali ke Pura Puseh/desa,” terangnya.
Mudiastika menjelaskan bahwa kali ini diambilnya tingkatan bebangkit dalam piodalan jelih atau tingkatan bebangkit karena sebelumnya belum pernah dilakukan sejak karya ngenteg pura puseh pada sekitar tahun 2003. Pengambilan piodalan bebangkit ini juga melibatkan paruman desa, para pedanda, pamangku kayangan tiga, dan krama adat di 9 banjar adat.
Lempari Kaca Bus, Proses Hukum Pelaku Anak Dibawah Umur Tetap Berlanjut
“Pengambilan upacara tingkatan jelih ini disepakati bersama. Pengambilan ini dilakukan berdasarkan pertimbangan bahwa dalam hampir 14 kali lilitan piodalan di Pura Puseh, tingkatan utama tidak pernah dilakukan karena berbagai kendala, termasuk saat pandemi COVID. Melalui pertimbangan tersebut, paruman desa sepakat melaksanakan piodalan bebangkit jelih,” jelas Mudiastika.
Bendesa yang baru dikukuhkan pada bulan Mei 2023 ini menuturkan, rangkaian piodalan telah dimulai dengan nuasen karya dan ngias pada Saniscara/Sabtu (9/6), kemudian dilanjutkan dengan kepura-pura Jagat dan Dangkhayangan. Pecaruan mancasanak dilaksanakan pada Selasa (13/6). Untuk prosesi upacara hari ini, terdapat nedunan ida betara, prosesi ngebijinan, nyatur desa, serta prosesi piodalan terakhir, penyineban.
Kebijakan Gubernur Menjaga Kesucian Gunung Mendapat Banyak Dukungan
“Untuk kelengkapan nyatur desa, sejumlah sarana upacara ikut diarak keliling, termasuk tarian wali, bebali, bali balian, senjata, serta pasukan jaga bala, wayang wong, baris gede, payas agung, dan tarian wali rejang yang diiringi oleh tabuhan gong bleganjur,” jelasnya.
lebih jelasnya Mudiastika menambahkan, selama prosesi karya pujawali ini, dua pedanda, yaitu Ida Pedanda Istri Griya Gede dan Ida Pedanda Giri Kusara, menjadi pemimpin. “Sementara lilitan Banjar Adat Batuagung bertindak sebagai pengatur acara, sekaligus memimpin karya tersebut,” pungkasnya. Tim






