Persindonesia.com Jembrana – Untuk mencari bibit pemain sepak bola dan juga menghidupkan permainan tradisional, Dandim 1617/Jembrana Letkol Inf Teguh Dwi Raharja yang merupakan putra Jembrana menghidupkan kembali permainan Tarkam yang dulunya merupakan permainan favorit anak muda Kabupaten Jembrana.
Tarkam merupakan permainan sepak bola mini yang dimainkan oleh enam orang tanpa menggunakan alas kaki dan menggunakan bola plastik. Permainan ini dikabarkan sempat ditentang oleh PSSI lantaran tidak sesuai dengan aturan sepak bola modern, akan tetapi Dandim Teguh tetap ingin menghidupkan kembali Tarkam dengan tujuan untuk melestarikan adat dan budaya lokal, serta mencari bibit pemain sepak bola.

Saat dikonfirmasi di kantornya, Dandim Jembrana Letkol Inf Teguh Dwi Raharja mengatakan, menurutnya permainan trsebut tidak ada aturan atau regulasinya tetap, permainan tersebut juga sempat ditentang terutama oleh PSSI karena tidak sesuai aturan. “Kami tidak mencari itu, tujuannya untuk melestarikan adatnya tetapi tetap menggandeng Asosiasi Kabupaten (Askab),” terangnya.
Pemain Musik Gamelan Jublak, Yessi: Keterbatasan Adalah Kekuatan untuk Maju
Adapun tujuan menghidupkan lagi permainan tersebut, menurut Dandim, dirinya mengingat masa dulu saat remaja sering bermain tarkan sampai melawan daerah lainnya di Jembrana. “Memang permainan ini rawan perkelahian, akan tetapi tujuan menghidupkan lagi permainan tarkam ini untuk mencari bibit pemain sepak bola, tidak kalah pentingnya untuk mengurangi kenakalan remaja, kita bias membina anak-anak muda agar mempunyai kegiatan positif,” ujarnya.
Bertepatan HUT Korem, lanjut Teguh, pada saat itu juga permainan tarkam dimulai dari Desa Pengambengan dengan memperebutkan piala Dandim CUP 2023. “Di Pengambengan pertama kalinya dilaksanakan. Saat hari pembukaaan saya umumkan tujuan permainan ini murni untuk mencari bibit pemain sepak bola dan bukan mencari bibit pencak silat atau karate karena permainan ini sering terjadi perkelahian,” ucapnya.
Setelah berjalan selama 3 bulan, imbuh Teguh permainan tersebut berjalan dengan lancar dan juga sportif, selain itu setiap permainan selalu ramai ditonton oleh masyarakat. “Alhamdulilah selama 3 bulan berjalan tidak ada permasalahan atau perkelahian. Pemain yang mendaftar membludak sebanyak 56 tim bahkan sampai kita batasi pendaftarannya,” ungkapnya.
Selundupkan Belasan Penyu Hijau, Pelaku Diringkus Tim Gabungan di Pantai Kelatakan
Teguh mengaku, setelah sukses diadakan di Desa Pengambengan, banyak desa yang ingin ikut menyelenggarakan permainan tersebut. “Banyak yang datang ke saya untuk mengusulkan menyelenggarakan di desa mereka, jadi permainan ini akan bergilir diadakan. Permainan kedua dilaksanakan di Desa Banyubiru dan sudah berjalan,” katanya.
Untuk mengantisipasi tidak ada keributan dalam permainan tersebut, Teguh mengaku, mengerahkan anggota Babinsa untuk mendata pemain yang ada di desa. “Saya beri tanggung jawab kepada Babinsa untuk menyeleksi pemain dari desa wilayahnya sendiri. Saat itu saya sendiri langsung memberi ultimatum, kalau ada tim yang berantem saat itu juga tim tersebut kita coret dan kepada Babinsa akan saya beri hukuman, penonton juga di cek mengantisipasi sajam dan alkohol,” tegasnya.
Lebih jelasnya Teguh mengatakan, dilihat dari segi positif permainan itu diadakan, bias memberi hiburan kepada masyarakat setempat, selain itu ekonomi juga biasa berjalan. “Setiap permainan diadakan penonton banyak yang datang sehingga warga yang berjualan menjadi laris manis, selain itu pemasukan dari parkir juga didapat, itu menandakan ada kehidupan perekonomian disana. Selain itu masyarakat terhibur, yang mempunyai hobi tersalurkan, ekonomi berjalan,” pungkasnya. Sur






