Upacara Penglukatan Rangda Tiga, Menetralisir Energi Negatif dan Membawa Keberuntungan

Persindonesia.com Jembrana – Bagi seseorang dengan kelahiran melik rangda tiga dalam pemahaman umat Hindu Bali diyakini mempunyai sifat yang tidak lazim dimiliki oleh orang lainnya, mereka yang kelahiran Rangda Tiga ini lebih cenderung menunjukan sifat yang temperamental seperti emosional yang berlebihan yang menyebabkan adanya konflik dalam kehidupan. Akan tetapi orang yang kelahiran rangda tiga juga membawa dampak kerejekian.

Saat dikonfirmasi usai pengelukatan rangda tiga masal di Pantai Rambut Siwi, Kecamatan Mendoyo, Jembrana  yang diikuti oleh kurang lebih 50 orang peserta, Pinisepuh Pasraman Sastra Kencana Guru Nabe Budiarsa menuturkan, Proses pengelukatan rangda tiga, (kelahiran melik), rangda tiga sangat mempengaruhi karakteristik manusia. “Ada 4 jenis rangda tiga diantaranya rangda tiga yang bersifat berbahaya sekali, bersifat membuat kaya, bersifat tenang dan damai, serta ada yang bisa membuat konflik dalam kehidupan baik dengan ayah, ibu, anak dan pasangan suami istri,” terangnya. Minggu (24/6/2024).

Pinisepuh Pasraman Sastra Kencana Guru Nabe Budiarsa
Pinisepuh Pasraman Sastra Kencana Guru Nabe Budiarsa

Menurutnya, dari 4 jenis rangda tiga yang berseberangan dengan potensi kualitas hidup dalam keharmonisan dan dalam pencarian kerejekian, menurut Guru Nabe itu harus dihilangkan dan dinetralkan agar berubah dari kekuatan negatif menjadi positif (wesia dadi amerta). “Upacara rangda tiga yang sesungguhnya adalah bagaimana kita mengubah energi negatif orang yang memiliki tubuh melik menjadi energi positif yang akan membawa keberuntungan dari segala hal,” jelasnya.

Pemprov Bali Hadir’ Beri Bantuan Warga Kurang Mampu di Desa Bondalem

Disisi lain, lanjut Guru Nabe, upacara ini juga bertujuan untuk mencabut dan menghilangkan pengaruh-pengaruh negatif yang menimbulkan penyakit dalam tubuh manusia, terutama penyakit yang bersifat menahun. “Sakit-sakit yang biasanya tidak terdeteksi di dunia medis yang sempat membingungkan kalangan medis yang menangani sehingga tidak sembuh-sembuh,” ujarnya.

Guru Nabe juga menjabarkan, kelahiran yang dikatakan rangda tiga adalah, kelahiran yang mendekati wuku, wuku menail, perangbakat, pujut dan pahang, wariga dan warigadean. “Jadi keenam wuku ini memiliki pengaruh rangda tiga. Dari enam wuku ini, di setiap wuku ini ada 7 hari, sehingga jumlah rangda tiga dalam 6 bulan itu ada 42 hari yaitu 7 hari kali 6 jenis wuku. Yang paling berbahaya dari 6 wuku ini adalah wuku prangbakat, warigadean dan Pahang,” paparnya.

Disinggung terkait sumber upacara tersebut, Guru Nabe menjelaskan, dasarnya dari sastra, lontar khususnya di konsep sapta durga, panca durga, dwi durga, tatwa ini juga sangat erat kaitannya dengan Tatwa dasa aksara dan kanda empat. Karena durga ini bagian dari ajaran kanda empat. Kanda empat itu meliputi panca detya ada mahluk-mahluk gaib. Karena panca durga merupakan energi panas didalam tubuh manusia.

Visi Misi Cocok di Hati: FORKAM Jember Siap Menangkan Faida di Pilkada 2024

“Perlu diingat kata durga ini bukan perwujudan seperti kita lihat seperti wujud rangda. Durga yang dimaksud di dalam tatwa kanda empat adalah, durga yang artinya Dur yang artinya panas dan Ga artinya perwujudan. Sifat durga ini ada di dalam tubuh manusia seperti darah daging, itu bersifat panas, berbeda dengan melik durga, kalau melik durga mempunyai energi spesial terkunci di dalam tubuh orang yang memiliki sifat melik, dan ini harus dinetralkan,” ucapnya.

Guru Nabe mengaku, kegiatan pengelukatan rangda tiga ini sudah sering dilakukan secara personal sehingga berkembang di masyarakat. “Hari ini kita melakukan pengelukatan rangda tiga secara masal. Dengan dilakukan secara masal bisa menekan biaya lebih murah agar bisa terjangkau bagi warga yang ekonominya lebih lemah. Untuk mengikuti kegiatan pengelukatan rangda tiga dibutuhkan biaya mahal berkisar 2 juta rupiah, jadi dengan masal seperti ini tentu biayanya lebih murah,” ungkapnya.

Lebih jelasnya Guru Nabe mengatakan, terkait upacara (banten) yang digunakan, yaitu banten suci, caru manca sata, caru ayam biying diolah menjadi 33. “Jadi masing-masing peserta mendapatkan 1 set banten untuk proses rangda tiga nya (tri durga murti) yang menyebabkan melik di tubuhnya. Sedangkan untuk caru manca sata ini berfungsi digunakan untuk proses dengan istilah mengundang kekuatan durga,” pungkasnya.

TPA Sente Klungkung Masih Berasap, Babinsa Pikat Lakukan Penyemprotan

Setiap peserta diberikan caru karena masing-masing peserta memiliki kala yang berbeda, memiliki hari yang berbeda untuk mengeluarkan seluruh kekuatan negatif dalam tubuh peserta dan nyupat tri durga menjadi tri amertha. “Tidak bisa 1 caru untuk digunakan perbanyak harus harus masing-masing peserta mendapatkan caru. Dengan adanya pengelukatan rangda tiga ini, kami berharap para peserta mendapatkan perubahan kehidupan yang lebih baik kedepannya serta sehat jasmani dan rohani,” harapanya. Sur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *