Persindonesia.com Jembrana – Di tengah jalur utama yang menghubungkan Kecamatan Pekutatan dengan Pupuan, Kabupaten Jembrana, berdiri sebuah pohon bunut raksasa yang menjadi ikon wisata sekaligus kawasan suci masyarakat setempat.
Destinasi yang dikenal dengan nama Bunut Bolong ini berada di Banjar Bunut Bolong, Desa Manggis Sari. Keunikannya terletak pada batang pohon besar berongga yang membelah jalan raya, sehingga kendaraan dapat melintas tepat di bawahnya. Fenomena langka tersebut menjadikan Bunut Bolong sebagai salah satu objek wisata paling terkenal di wilayah barat Pulau Bali.
Nama Bunut Bolong berasal dari bahasa Bali. “Bunut” berarti pohon bunut, sedangkan “bolong” berarti lubang besar. Lubang alami di bagian bawah pohon itulah yang kini menjadi akses jalan penghubung antardaerah. Dari kejauhan, pohon tua dengan akar besar dan rimbunnya dedaunan itu tampak menjulang di tengah hutan, menghadirkan suasana sejuk sekaligus sakral bagi siapa saja yang melintas.
Pariwisata Penggerak Utama Perekonomian Bali
Selain menjadi jalur transportasi, kawasan ini juga sering dijadikan tempat singgah wisatawan untuk beristirahat dan mengabadikan momen. Banyak pengunjung berhenti sejenak untuk berfoto dengan latar pohon raksasa yang unik tersebut. Tidak sedikit pula wisatawan yang penasaran dengan kisah mistis dan nilai spiritual yang melekat pada Bunut Bolong.
Lokasi wisata ini cukup mudah dijangkau. Dari Kota Denpasar, perjalanan menuju Bunut Bolong memakan waktu sekitar dua jam dengan jarak kurang lebih 78,5 kilometer. Sementara bagi wisatawan yang baru tiba dari Pelabuhan Gilimanuk dan menuju Denpasar, objek wisata ini dapat dicapai dalam waktu sekitar 1 jam 41 menit dengan jarak tempuh 67,4 kilometer. Jalur menuju kawasan tersebut juga menawarkan panorama alam perbukitan dan hutan yang masih asri.
Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Ida Ayu Indah Yustikarini mengatakan, Bunut Bolong menawarkan kepada wisatawan berupa wisata unik yang ada di Jembrana. “Bunut Bolong ini menjadi salah satu ikon wisata yang ada di Jembrana,” ujarnya.
Penasihat Ahli Kapolri Apresiasi PMJ Ungkap 127 Kasus Kejahatan Jalanan
Sementara itu, Jero Mangku Nyoman Dana selaku Juru Sapuh di pura kawasan suci Bunut Bolong mengatakan, tidak ada catatan pasti mengenai usia pohon bunut tersebut. Menurut cerita turun-temurun dari para leluhur, pohon itu telah ada sejak ratusan tahun lalu, bahkan pada masa penjajahan Belanda. “Sejak zaman kerja rodi Belanda, pohon bunut ini sudah ada,” ujarnya.
Masyarakat setempat meyakini kawasan Bunut Bolong memiliki aura spiritual yang kuat. Di area tersebut berdiri sejumlah bangunan suci yang hingga kini masih digunakan untuk kegiatan persembahyangan. Di bagian barat laut terdapat Pura Pesimpangan Ratu Gede Dalem Ped. Sementara tepat di bawah pohon bunut terdapat dua areal suci, yakni stana Ida Ratu Lingsir Putus di sisi timur serta palinggih ancangan Ida di sisi lainnya yang dilengkapi patung harimau dan naga. Keberadaan bangunan suci itu semakin mempertegas bahwa Bunut Bolong bukan sekadar destinasi wisata, melainkan juga kawasan yang dihormati masyarakat adat.
Karena dianggap sakral, terdapat sejumlah pantangan adat yang hingga kini masih dipatuhi masyarakat. Iring-iringan pengantin maupun prosesi pitra yadnya atau upacara kematian dilarang melintas di jalan yang menembus pohon bunut. Masyarakat percaya larangan tersebut harus ditaati untuk menjaga kesucian kawasan. Sebagai alternatif, warga telah menyiapkan jalur khusus di sisi barat pohon untuk dilalui rombongan upacara adat tersebut.
PDI Perjuangan Bali Siapkan Rangkaian Perayaan Bulan Bung Karno 2026 Selama Juni Penuh
Kepercayaan dan cerita mistis yang berkembang di tengah masyarakat turut menambah daya tarik Bunut Bolong. Banyak warga meyakini kawasan tersebut dijaga secara niskala sehingga pengunjung diimbau menjaga sikap dan ucapan selama berada di area itu. Meski demikian, suasana di kawasan Bunut Bolong tetap terasa nyaman dan damai, terutama dengan udara pegunungan yang sejuk dan rindangnya pepohonan di sekitarnya.
Menurut Jero Mangku, pengunjung yang datang didominasi wisatawan lokal, terutama saat musim liburan dan akhir pekan. Namun tidak sedikit pula wisatawan asing yang sengaja singgah untuk melihat langsung keunikan pohon bunut raksasa tersebut. Selain menikmati keindahan alam, sebagian pengunjung juga datang untuk bersembahyang di pura yang berada di kawasan itu.
Pujawali di Pura Bunut Bolong sendiri dilaksanakan setiap Anggara Kasih Julungwangi dan diempon oleh masyarakat Desa Manggis Sari. Pada hari tersebut, kawasan Bunut Bolong biasanya dipenuhi warga yang datang untuk bersembahyang dan mengikuti rangkaian upacara adat. Tradisi itu menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan nilai budaya dan spiritual yang telah diwariskan secara turun-temurun di kawasan Bunut Bolong. (*)






