JENEWA, SWIS,Persindonesia.com – Hari ke-9 ILC Session 114, Selasa 9/6/2026, markas PBB dan ILO Jenewa berubah jadi “ruang perang gagasan”. Delegasi 187 negara anggota ILO berdebat maraton di 4 komite paralel untuk mengunci arah ketenagakerjaan global 10 tahun ke depan.
Indonesia hadir bukan sekadar peserta. Delegasi tripartit RI aktif jadi penengah, penegas, dan penyambung isu dari global ke realitas pekerja di tanah air.
Maraton 4 Komite, Satu Garis Merah: Pekerjaan Layak
1. CDG – Kesetaraan Gender
Di CICG, Committee on Gender Equality bahas “Transformative Agenda for Gender Equality at Work”. Intinya: hapus diskriminasi di rekrutmen, upah, dan promosi. Perkuat perlindungan pekerja perempuan dari kekerasan dan pelecehan.
2. CD-R – Dialog Sosial
Di Palais des Nations, Committee on Recurrent Discussion kembali menegaskan tripartisme. Pemerintah, pengusaha, pekerja harus duduk sama rendah bicara sama tinggi. Tanpa dialog, kebijakan ketenagakerjaan gampang retak.
3. CNP – Pekerja Platform Digital
Komite paling panas. Committee on Decent Work in the Platform Economy di CICG fokus bikin standar internasional pertama untuk ojol, kurir, freelancer. Isu kuncinya: status hubungan kerja, jaminan sosial, upah adil, dan K3. Ini jawaban ILO atas fenomena “PHK algoritma” dan kerja tanpa kepastian.
4. CAN – Pengawasan Standar
Committee on the Application of Standards di gedung ILO jadi “hakim”. Komite ini bedah laporan negara anggota: sudah patuh atau belum sama konvensi ILO yang diratifikasi. Fungsi pengawasan agar standar tak jadi macan kertas.
Suara Indonesia: Pendidikan untuk Pekerja dan Anaknya
Di tengah gencarnya bahas AI dan platform digital, delegasi pekerja Indonesia dari Banten, H. Dewa Sukma Kelana, S.H., M.Kn lemparkan isu yang jarang diangkat: pendidikan keluarga pekerja.
Sebagai Sekjen KSPSI Banten, Ketua FSP LEM SPSI Banten, dosen Unpam Serang, dan mahasiswa S3 UIN Bandung, Dewa bilang transformasi industri bikin pekerja wajib upskilling. Tapi upskilling percuma kalau anak pekerja tak dapat pendidikan layak.
“Pekerja butuh pelatihan kompetensi. Tapi anak pekerja juga butuh sekolah bagus. Investasi SDM itu dua jalur: pekerja hari ini dan generasi pekerja besok. Kalau dua-duanya kuat, kita siap lawan disrupsi global,” ujar Dewa.
Ia dorong ILO dan negara anggota bikin program kemitraan internasional: serikat pekerja + pemerintah + perusahaan + kampus dunia. Tujuannya buka akses pendidikan, pelatihan, sertifikasi, sampai riset terapan untuk pekerja dan keluarganya.
“Pendidikan jangan berhenti saat KTP jadi pekerja. Justru di situlah harus dimulai pendidikan berkelanjutan. Lewat kolaborasi global, pekerja bisa adaptasi cepat dengan teknologi dan pasar kerja,” tegas Dewa Sukma Kelana.
Indonesia Posisi Penengah
Dari 4 komite itu, posisi Indonesia konsisten: dukung standar baru untuk pekerja platform, tapi jaga iklim usaha. Dorong kesetaraan gender, tapi berbasis budaya kerja Indonesia. Kuatkan dialog sosial, bukan konfrontasi.
Semangat itu yang bikin ILC 2026 tetap jadi forum tertinggi ketenagakerjaan dunia. Tempat pemerintah, pengusaha, pekerja dari semua negara duduk satu meja, debat keras, tapi tujuannya satu: dunia kerja yang lebih adil, inklusif, sejahtera.






