BONDOWOSO, Persindonesia.com – Aktivis muda Ageng Yuli Saputra menanggapi pernyataan Bupati Bondowoso yang baru-baru ini mengakui bahwa sekitar 40 persen tegakan hutan pada ratusan hektar di kawasan Ijen telah hilang akibat alih fungsi lahan.
Menurut Ageng, pengakuan ini harus jadi alarm serius bagi pemerintah pusat maupun daerah. Ia menekankan, kerusakan hutan bukan hanya soal lingkungan, tapi juga soal hilangnya peluang ekonomi untuk daerah dan petani kecil.
“Kalau hutan dibiarkan rusak, rakyat Bondowoso yang pertama menanggung akibatnya: banjir, longsor, dan gagal panen. Padahal kalau dikelola baik, hutan bisa jadi sumber pendapatan daerah untuk membangun desa. Sayangnya, petani tetap hidup pas-pasan, sementara keuntungan justru dinikmati oligarki,” ujar Ageng, Minggu (24/08/2025).
Ia menambahkan, hilangnya 40 persen hutan berarti Bondowoso kehilangan potensi PAD dari sektor kehutanan, ekowisata, dan hasil bumi legal yang seharusnya masuk kas daerah. “Yang rugi rakyat, yang untung hanya segelintir pihak besar. Ini jelas tidak adil,” katanya.
Sebagai solusi, Ageng mendorong pemerintah mengambil langkah nyata untuk menyelamatkan hutan sekaligus menyejahterakan petani melalui:
Pertanian berkelanjutan di kawasan penyangga hutan agar petani tetap bisa menanam tanpa merusak hutan.
Akses pasar langsung bagi petani kecil agar tidak tergantung pada tengkulak atau korporasi besar.
Skema perhutanan sosial yang memberi hak kelola resmi pada masyarakat, sekaligus meningkatkan PAD daerah lewat mekanisme legal.
“Petani Bondowoso tidak boleh terus jadi korban. Kalau hutan dijaga dan petani diberdayakan, maka daerah akan mendapat PAD, rakyat sejahtera, dan oligarki tidak lagi merampas keuntungan dari lahan negara,” tegas Ageng.
(Nusul)






