Persindonesia.com Jembrana – Akhirnya Salah satu siswa berprestasi asal Kabupaten Jembrana yang merupakan pelajar SMAN 2 Negara bernama I Putu Agus Restu Astika Putra 18 tahun, mengikuti program mandiri dengan biaya sendiri untuk meperlancar cita-citanya sebagai dokter kedepannya akhirnya sukses setelah mengikuti ajang Japan Design & Invention Expo 2023 (JDIE) di Tokyo pada 8 Juli 2023. Hebatnya putra asal Jembrana tersebut berhasil meraih medali emas dan mengalahkan 25 negara. Hari ini Agus Restu direncanakan akan tiba di Bali
Atas prestasinya sebagai putra Jembrana yang juga ikut mengharumkan nama Jembrana dan membawa nama Bali dan Indonesia pada umumnya, mendapat apresiasi dari Bupati Jembrana I Nengah Tamba. Bupati Tamba sebelumnya mendengar bahwa ada salah satu siswa yang akan berangkat ke Jepang mengikuti kompetisi, karena infonya mendadak dirinya tidak sempat bertemu.

“Karena adik dan keluarganya liburan sekolah mereka berangkat dari Denpasar, saat itu tidak ada komunikasi lagi dengan saya, sampai ada informasi bahwa Agus mendapatkan juara. Disitu saya kaget kok tidak pernah ketemu dengan saya. Yang penting saya sebagai bupati sangat bangga dengan capaian anak tersebut apalagi sudah mengharumkan nama Jembrana di negeri Sakura tersebut,” ujarnya. Selasa (11/7/2023).
Anggota DPRD Kota Tangerang Berharap PPDB 2023 Menciptakan Keadilan
Dirinya sudah berjanji untuk bertemu nanti saat Agus Restu sudah di Jembrana. Dirinya juga sudah mengantisipasi kedepannya jika ada siswa-siswa di Jembrana mempunyai prestasi untuk dianggarkan. “Kemarin saya sudah video cal dengan Agus, nanti kalau sudah pulang kita akan bertemu. Selain itu saya juga sudah berkomunikasi dengan pak kadis Pendidikan supaya menfloating anggaran untuk anak-anak yang mempunyai prestasi, mungkin nanti ini sifatnya pribadi bupati akan membantu mengatasi setelah datang dari Jepang, kita akan ketemu apa masalahnya,” terangnya.
Sementara Ke[ala SMAN 2 Negara I Wayan Sudiarta menuturkan bahwa anak didiknya mengikuti kompetisi ke Jepang dengan program mandiri dan dengan biaya sendiri. Agus Restu memang punya cita-cita akan melanjutkan ke kedokteran, dirinya. Menurut pengakuan Agus, dirinya secara pribadi mencari informasi ajang kompetisi tersebut. “Agus mengikuti seleksi sudah 3 bulan lamanya paling tidak untuk punya prestasi. Saat mengikuti seleksi, Agus membawa nama sekolah,” jelasnya.
Setelah seleksi, lanjut Sudiarta, pihak panitia di Jepang mengirim surat bahwa Agus lolos seleksi, sehingga Agus meminta pertimbangan kepada guru di sekolah. “Disini kita bingung, dilain pihak, Agus mengikuti program mandiri sehingga dirinya tidak mendapatkan bantuan dana. Setelah kami berkomunikasi dengan Tim Dana Bos sekolah, akhirnya disepakati membantu dengan hanya sampai pembelian tiket pulang pergi dari dana Bos tersebut,” ungkapnya.
Penggerebekan Gudang Gas Oplosan Berlangsung Dramatis
Menurutnya, sesuai aturan, selama ini, di SMAN 2 Negara tidak memungut biaya apapun kepada siswa, termasuk tidak memungut uang komita. “Namanya saja sekolah gratis, kita mempunyai sumber anggaran hanya dana Boss, itupun harus ada regulasi. Boleh kita disana ikut perlombaan, kalau lomba tingkat kabupaten, provinsi bahkan nasional, untuk nasional kita tidak banyak juga menganggarkan itu pun lewat aplikasi. Untuk nasional itu dibiayai provinsi, sedangkan mengikuti ajang kompetisi sampai keluar negeri, itu dibiayai nasional,” ucapnya.
Kendati demikian, pihaknya tetap memberi bantuan kepada Agus Restu, dengan biaya sukarela bersama para guru. “Kami bisa mengumpulkan uang Rp. 1 juta rupiah, hanya itu yang bisa kita berikan, selain biaya tiket pulang pergi yang bersumber dari dana Bos. Nanti kita akan berikan saat Agus sudah pulang dari Jepang, semua pembayaranya menggunakan non tunai,” katanya.
Lebih jelasnya Sudiarta mengatakan, kalau pun sekolah melakukan kegiatan dan mewakili sekolah itu akan dibiayai oleh sekolah. “Kalau sampai keluar negeri ini yang kami bingung, seperti serkarang Agus mengikuti perlombaan secara mandiri. Sebelumnya Agus juga pernah mengikuti perlombaan di Bejing (Cina) saat masih di bangku sekola menengah pertama (SMP) di Denpasar,” pungkasnya. Sur






