Persindonesia.com Jembrana – Masalah kesehatan menghadang perjalanan hidup Mas Raditya (4), seorang anak yang berasal dari Banjar Kelapa Balian, Desa Pengambengan, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana. Ia mengalami kondisi medis yang disebut Hipospadia, di mana lubang kencing pada penisnya terletak di bagian bawah, bukan di ujung seperti seharusnya.
Lama menunggu tanpa kejelasan di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah membuat keluhan kesehatan Mas Raditya semakin memburuk, terutama ketika ia buang air kecil. Mendengar kondisi ini, Nur Rahmania berbagi cerita kepada beberapa temannya, termasuk kelian dari Banjar Kelapa Balian, Desa Pengambengan.
PPDB Gaduh Ketua Hanura Minta Pemkot Tangsel Turun Tangan
Orang tua dari Mas Raditya yang bernama Ahmad Sofyan dan Ibu Mas Nur Rahmania, berharap agar anak mereka segera mendapatkan penanganan medis, khususnya operasi, di Pusat RSUP Sanglah. “Kami sudah menunggu selama lebih dari satu tahun untuk mendapat kabar kapan operasi akan dilakukan. Awalnya, kami diminta hanya untuk menunggu,” ujar Nur Rahmania pada Jumat (28/7/2023).
Mereka berharap bisa langsung membawa Mas Raditya ke RS Sanglah untuk mendapatkan penanganan, namun terkendala oleh biaya transportasi dan hal-hal lainnya. “Beruntung, kami mendapat bantuan dari relawan kemanusiaan, Komunitas Relawan Jembrana (KRJ), dan sebelumnya juga dari Gerakan Pemuda Loloan (GPL),” jelasnya.
Wagub Cok Ace Kukuhkan DPD IWAPI Bali
Untuk biaya berobat ke RSUP Sanglah, pihaknya mendapat bantuan dari relawan. Akan tetapi setelah datang ke rumah sakit, pihaknya diminta untuk kembali lagi pada tanggal 4 Agustus mendatang. “Kemarin kami pergi ke RS Sanglah karena telah mendapat bantuan dari para relawan. Kami diminta untuk datang kembali tanggal 4 Agustus. Katanya, kami akan mendapatkan kamar. Namun, kami belum tahu apakah itu berarti anak kami akan segera dioperasi atau bagaimana. Harapan kami, anak kami segera mendapatkan penanganan medis, karena sudah terlalu lama kami menunggu,” terangnya.
Nur melanjutkan, keluarganya bahkan kesulitan untuk mencukupi kebutuhan makan sehari-hari, dan suaminya kadang harus melaut atau mencari pekerjaan sementara. “Kami tinggal numpang di rumah orang tua, dengan kondisi rumah yang sederhana, itu tetap kami syukuri masih mempunyai tempat tinggal. Ketika kami pergi ke Denpasar, kami juga berharap ada bantuan untuk tempat menginap karena kami kesulitan biaya untuk menyewa penginapan,” ucapnya penuh harap. Dr






