Beg-Rembeg dan Pura-Pura Peduli Rakyat Di Negeri Konoha

OPINI – Saat ini, pencitraan menjadi trend bagi sepasang pejabat yang sama-sama memiliki hobi mengoleksi jabatan pemerintahan di Negeri Konoha. Kita disuguhkan dengan cerita duet pejabat yang blusukan ke tengah masyarakat berdalih “Beg-Rembeg” serap aspirasi, supaya dianggap peduli dan dekat dengan rakyat.

Berbagai trik dan tipuan akan mereka lakukan demi meraih simpati masyarakat. Hebatnya lagi, pencitraan murahan itu didukung oleh publikasi secara masif memberitakan semua “kebaikan” sang pejabat.

Bagi masyarakat awam, tentu politik “cari muka” yang dilakukan pejabat dianggap sebagai hal yang wajar, bahkan sebagian akan mudah tertipu. Namun, bagi masyarakat yang melek politik tentu tidak akan terpengaruh oleh propaganda murahan tersebut.

Bisa kita bayangkan kalau trik tipuan pejabat berhasil mengkibuli masyarakat, sudah barang tentu proses demokrasi kita akan menjadi tidak terurus dengan baik.

Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang ikhlas, serta tidak suka untuk dipuji-puji atas alasan apapun. Pemimpin yang ikhlas akan selalu bekerja sesuai dengan aturan-aturan, dan dapat memegang teguh sumpah jabatannya.

Dia bekerja melayani masyarakat tanpa kepentingan apapun. Dan dia juga tidak berharap banyak pada pemilu yang akan datang, karena ketakutannya pada tuhan atas dosa-dosa besar yang ditanggungnya di hari penghakiman kelak.

Pemimpin seperti Umar bin Khattab telah melakukan hal ini, dan tanpa pencitraanpun beliau tetap dikenang sebagai pemimpin besar di dunia ini. Jadi, kalau kita melihat ataupun mendengar berita-berita tentang kebaikan seorang pejabat misalnya blusukan cek jalan berlubang, selokan tertutup rumput, tapi disorot kamera. Itu bukanlah sebuah kebaikan yang perlu di publikasikan karena membantu masyarakat adalah tugasnya pemimpin dan sudah menjadi kewajiban memberikan yang terbaik untuk rakyatnya.

Untuk menilai seorang pejabat mencari muka atau mencitrakan dirinya cukup gampang, lihat saja menjelang pemillukada, dia akan menyibukkan diri blusukan, beg rembeg, kunjungan langsung ke masyarakat. Sebelum menjabat apakah dia pernah blusukan atau sekedar peduli masyarakat? Jadi tidak salah kita perlu mencurigai kalau pemimpin tersebut, memiliki nafsu untuk melanggengkan jabatan dan kekuasaan pada pemilukada mendatang.

Beg rembeg adalah pencitraan murahan untuk menarik simpati masyarakat, jangan pilih pejabat seperti itu karena orang seperti itu umumnya tidak memiliki niat yang baik dan akan sering melupakan janji-janji politiknya ketika terpilih.

(Ageng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *