Belum Terima KTA Kembali, Golkar Jembrana Tanggapi Santai Kepindahan Ipat

Persindonesia.com Jembrana – Kabar perpindahan Wakil Bupati Jembrana, I Gede Ngurah Patriana Krisna (Ipat), ke Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) bersama ayahnya, I Gede Winasa—mantan Bupati Jembrana periode 2000–2010—dan istri Winasa, Umi Khalisah, menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat Jembrana.

Meski kepindahan Ipat ke PDIP sudah ramai di media sosial dan disebut-sebut telah menerima Kartu Tanda Anggota (KTA) PDIP, hingga kini DPD II Golkar Jembrana menyatakan mengaku belum menerima pengunduran diri Ipat secara resmi, baik secara lisan maupun tertulis.

“Pak Wakil sampai saat ini belum mengembalikan KTA Partai Golkar. Saya juga berencana akan mengonfirmasi langsung kepada beliau terkait hal ini,” ujar Sekretaris DPD II Golkar Jembrana, I Nyoman Birawan alias Mang Be, saat dikonfirmasi, Senin (19/5/2025).

Pekerja Asal Pupuan Ditemukan Tewas Tergantung Dengan Tali Tambang di Sukawati

Ia menambahkan, sampai saat ini belum ada komunikasi resmi mengenai pengunduran diri Ipat dari Partai Golkar. “Saya hanya tahu dari media sosial bahwa beliau bergabung ke PDIP dan katanya sudah menerima KTA. Tapi secara resmi belum ada. Kami kembalikan kepada beliau, di mana merasa nyaman, itulah pilihannya. Kami tidak berhak memanggil, hanya menunggu konfirmasi langsung dari beliau,” tegasnya.

Hal senada disampaikan Ketua DPD II Golkar Jembrana, I Made Suardana. Menurutnya, urusan dengan Ipat telah dianggap selesai saat proses pendaftaran Pilkada. “Selanjutnya, beliau memiliki hak dan kewenangan penuh untuk menentukan sikap politiknya sendiri. Saya yakin beliau akan mengambil keputusan terbaik,” ujarnya singkat.

Sementara itu, Ipat mengaku telah mengembalikan KTA Golkar, namun tidak bertemu langsung dengan pengurus partai. Ia juga mengakui belum menyampaikan surat pengunduran diri secara resmi.

Konferprov PWI Bali Digelar Akhir Mei, Gubernur Koster Akan Hadir

“Saya bingung, apakah saya masih dianggap sebagai anggota Golkar atau tidak. Karena kalau saya masih dianggap kader, saat pencalonan kemarin seharusnya disupport. Saya memang bergabung ke PDIP bersama bapak saya, sedangkan istri saya tidak ikut karena beliau non-partisan,” jelasnya.

Ia menambahkan, alasannya bergabung ke PDIP karena merasakan nilai-nilai gotong royong dan kekeluargaan lebih terasa di partai berlambang banteng tersebut.

Dikonfirmasi terpisah, I Gede Winasa membenarkan bahwa dirinya bersama anak dan istrinya telah bergabung ke PDIP. “Pilihan politik itu dinamis. Saya bersama anak dan istri bergabung ke PDIP karena kami melihat kesesuaian dengan nilai-nilai yang kami pegang,” ujarnya.

Kejutan dari Jembrana, Wabup Ipat dan Mantan Bupati Winasa Resmi Kantongi KTA PDIP

Saat ditanya soal kemungkinan Ipat maju sebagai calon bupati setelah dua periode menjabat sebagai wakil bupati, Winasa menyatakan hal tersebut bergantung pada dinamika politik. Namun, ia menegaskan bahwa idealisme harus tetap dijaga.

“Yang penting, arah idealisme kita tidak berubah. Saya tetap memegang prinsip marhaenisme: sama rata, sama bahagia. Strategi bisa berbeda-beda, tapi idealisme tidak boleh berubah,” pungkasnya. Ts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *