PERSINDONESIA.COM – Dalam rangka mempermudah proses transaksi bagi wisatawan, Desa Wisata Penglipuran memperkuat transaksi pembayaran digital. Langkah ini ditempuh melalui penandatangan kerjasama dengan sejumlah Bank milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Jakarta, Jumat (9/10). Dengan ini diharapkan wisatawan yang berkunjung bisa melakukan pembelian tiket tidak saja lewat tunai dan QRIS, tapi juga kartu kredit dan debit dari berbagai bank daerah maupun nasional.
“Tahun ini dan ke depan, kami harap bisa melayani wisatawan dengan metode pembayaran yang berbeda-beda seperti mastercard, kartu kredit, dan lainnya,” jelas Ketua Badan Usaha Desa Adat (BUPDA) Penglipuran, I Wayan Sumiarsa, Senin (12/10).
Meskipun acara peresmian baru terlaksana beberapa hari yang lalu, lanjut Sumiarsa, pemberlakuan metode pembayaran telah berlangsung sejak Agustus kemarin. Penerapannya masih dalam percobaan hingga akhir tahun ini. Kata Sumiarsa, sejauh ini, peningkatan pelayanan terjadi di konter-konter tiket yang ada, sehingga antrean panjang jauh berkurang karena wisatawan mempunyai alternatif pembayaran menggunakan mastercard, kartu debit, maupun kartu kredit dari BTN, BRI, BNI, BPD, dan Mandiri.
Ditambah lagi terdapat aplikasi super (super app) dalam perbankan digital yang memudahkan pembelian tiket secara daring (online). “Mereka bisa tinggal buka aplikasinya dan membeli tiket di sana sehingga inilah cara kami menguatkan destinasi menuju keberlanjutan,” sebut Sumiarsa.
Menurutnya, sejak dimulai masa percobaan terdapat lonjakan pembelian tiket non tunai. Dibandingkan tahun lalu yang berada di bawah 20 persen, kini berubah menjadi 60 persen. Penggunaan QRIS masih mendominasi sebesar 40 persen yang diikuti penggunaan mastercard hingga kartu kredit sebesar 20 persen.
“Peningkatannya termasuk pada pembelian tiket online dan kita masih uji coba terus sampai nanti aplikasi kami siap digunakan,” kata Sumiarsa.
Pihaknya berharap metode pembayaran yang baru bisa sepenuhnya diadopsi pada awal tahun depan. Harapannya, agen perjalanan nantinya bisa beralih ke pembelian tiket online melalui website dan aplikasi yang sedang dipersiapkan. Dengan begitu, wisatawan yang tiba di Desa Wisata Penglipuran cukup melakukan pemindaian kode batang (barcode) yang termuat dalam tiket online mereka.
“Saat ini, kami berencana melakukan pendekatan dengan agen perjalanan di Bali agar mendukungnya realisasi digitalisasi di Desa Wisata Penglipuran,” ungkap Sumiarsa.
Baca Juga : Natal dan Tutup Tahun 2025, Desa Wisata Penglipuran Hadirkan Belasan Barong Macan
Ia juga menegaskan bahwa hadirnya kemudahan mengunjungi desa yang pernah mendapatkan predikat desa terbersih di dunia tersebut tidak lantas membuatnya mengabaikan sisi sosial dan lingkungannya. Baginya, mengedepankan pariwisata berkualitas lebih penting sehingga potensi laju kenaikan wisatawan akan tetap disesuaikan dengan daya dukung (carrying capacity) yang dimiliki Desa Wisata Penglipuran.
Wisatawan sebanyak 2.000-2.500 setiap harinya telah jadi pagar yang disepakati dalam kesepakatan adat (paruman). “Kami tidak lagi bicara jumlah, melainkan kualitasnya sehingga fokus menstabilkan kunjungan ,” tegas Sumiarsa. (*)






