Persindonesia.com Jembrana – Menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru), keberadaan gerai tiket di Pelabuhan Gilimanuk kembali marak. Gerai-gerai ini bermunculan seperti jamur di musim hujan, memenuhi badan jalan dan menyebabkan kemacetan yang mengganggu arus lalu lintas. Tak hanya gerai tetap, terdapat pula gerai berjalan yang menggunakan mobil pribadi untuk berjualan tiket secara berpindah-pindah, menyulitkan petugas dalam melakukan penertiban.
Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasat Pol PP) Kabupaten Jembrana, Made Leo Agus Jaya, mengungkapkan bahwa kemacetan ini merupakan dampak dari meningkatnya kunjungan wisatawan ke Bali selama perayaan Nataru. “Bali menjadi salah satu destinasi favorit saat tahun baru. Oleh karena itu, kami mengantisipasi lonjakan arus balik ke arah barat,” ujarnya. Senin (30/12/2024).
Tahun 2025 Warga Kayu Selem Gwasong Se- Bali Rencanakan Gelar Karya Agung
Menurutnya, gerai tiket yang beroperasi di sepanjang Terminal Kargo hingga Pelabuhan Gilimanuk diperkirakan mencapai 40 hingga 50 gerai. Sebagian besar di antaranya menggunakan badan jalan yang semestinya tidak diperbolehkan. “Himbauan telah sering kami lakukan, namun menjelang liburan, mereka kembali bermunculan. Tren baru yang kami temui adalah gerai berjalan yang menggunakan mobil sebagai konter tiket. Mereka bisa berpindah-pindah dan memanfaatkan badan jalan,” jelasnya.
Situasi ini diperparah dengan adanya petugas gerai yang berebut menghentikan kendaraan di pinggir jalan untuk diarahkan ke gerai masing-masing. Hal ini kerap memicu kemacetan yang signifikan. “Kalau mereka tertib dan tidak saling mendahului lokasi, lalu lintas masih bisa ditangani. Namun, mereka sering kali berebut pelanggan sehingga menyebabkan kemacetan parah,” tambahnya.
Jenazah PMI Asal Jembrana Meninggal di Turki Tiba di Rumah Duka Tuwed
Selain menertibkan gerai tiket, pihaknya juga gencar melakukan penertiban reklame ilegal yang mengganggu lalu lintas. “Kami bergerak bersama Dinas Perizinan dan Dinas Perhubungan untuk menertibkan reklame mulai dari perbatasan Jembrana dan Tabanan hingga Gilimanuk. Fokus kami adalah reklame yang tidak berizin, menyalahi zona pemasangan, dan menghalangi rambu lalu lintas,” tegasnya.
Dengan padatnya arus balik wisatawan domestik, Made Leo berharap adanya partisipasi aktif dari pemilik gerai tiket untuk menjaga ketertiban lalu lintas dan kebersihan lingkungan. “Kami tidak bisa melarang sepenuhnya, tetapi setidaknya mereka bisa membantu menjaga ketertiban umum demi kelancaran arus lalu lintas di Pelabuhan Gilimanuk,” pungkasnya. TS






