Kisah Berdirinya Pura Pagubugan Manistutu Yang Menyimpan Banyak Misteri

Persindonesia.com Jembrana – Pura Khayangan Jagat Ulun Danu Pagubugan di Desa Manistutu setelah dikenalkan oleh Bupati Jembrana I Nengah Tamba, diketahui banyak masyarakat, bahkan petinggi pejabat provinsi juga sempat datang untuk sembhayang. Adapun jarak yang ditempuh untuk mencapai pura pura tersebut jaraknya 2,5 kilometer keutara dari Bendungan Bendel, lokasinya ditenah hutan.

Pura Pagubugan disungsung 10 subak, diantaranya 7 subak dari Desa Kaliakah, 1 subak dari Desa Manistutu dan 2 subak dari Desa Baluk. Keberadan pura Pagubugan diyakini memberi berkah untuk para petani disawah. Keberadaanya juga mengandung banyak misteri, dimana para rencang Ida Bhatara yang berstana disana berupa macan (harimau) segala warna.

Penemuan Mayat, Tanpa Identitas TKP Aliran Sungai Ds. Cemper Desa Lanas, Kec, Botolinggo, Kabupaten Bondowoso

Di pura tersebut juga terdapat gong kuno yang ditempatkan lumbung pura tersebut. Sebelumnya gong ersebut sempat dicuri orang dan dibawa pulang untuk dibawa ke tukang besi (pande), akan tetapi setelah dipukul dengan besi, pande tempat mengolah besi tersebut terbakar, sehingga gong tersebut diputuskan untuk dikembalikan lagi ke pura.

Pura Khayangan Jagat Ulun Danu Pagubugan letaknya diatas batu dan diapit oleh dua sungai yang disebut campuhan. Sekitar tahun 2018 saat Bupati Jembrana yang sekarang I Nengah Tamba saat itu masih menjabat DPRD Prov. Bali tergugah hatinya setelah mendengarkan cerita dari warga untuk membangun penataran yang berisi meru dan merenopasi pura aslinya diatas batu.

Tindak Lanjut Ungkap Kasus Ekspor Migor Ilegal, Polisi Berhasil Kumpulkan Barang Bukti Tambahan

Sebelumnya di tahun 2013 akses masuk kepura tersebut hanya sebatas jalan setapak. Di tahun 2018 setelah dibangun pura penataran dan merenovasi pura yang diatas batu juga dibangun akses jalan agar mobil bisa masuk kesana. Sebelumnya untuk membawa bahan material untuk pembangunan pura tersebut hanya mempergunakan sepeda motor.

Menurut Pengakuan dari Sekretaris Pura Kahyangan Jagat Samania Wana Giri Mertha Pura Khayangan jagat Ulun danu Pagubugan I Ketut Riasna, dirinya mengatakan, awalnya dahulu jaman Jepang, petani di daerah Desa Kaliakah susah pada saat mau panen padi terus rusak, saat itu ada orang muslim ikut bekerja di sawah. Sabtu (14/5/2022).

Perayaan Tumpek Wariga Dipusatkan di Jembrana, Bupati Tamba Muliakanlah Tumbuhan

“Orang muslim tersebut didatangi oleh orang baju putih, dia berkata, “yen cening mekita padi tetap nadi rereh genah nira ring pelinggih diduur batu disamping campuhan mepinget ajak jepun 2 punye teken puyan duren 2 punye” (jika anda mau padi tetap bagus hasilnya carilah saya di pelinggih atas batu disampingnya terdapat belahan sungai, disana ada 2 pohon durian dan 2 pohon bunga jepun),” ungkapnya.

Mendapatkan informasi tersebut,lanjut Riasna, warga melapor ke Puri Gede Jembrana, sehingga pihak Puri Gede Jembrana mengutus warga yang mengetahui tempat tersebut. Warga yang biasanya mengetahui hutan tersebut kesulitan menemukan pura tersebut, sehingga diputuskanlah untuk sembahyang di Pura Pulaki Banjar Munduk untuk meminta petunjuk.

Dua Kapal Bertabrakan di Pelabuhan Ketapang Banyuwangi Hendak ke Bali

“Setelah sembahyang pihak Puri Gede Jembrana akhirnya mendapat petunjuk disuruh mengikuti suara gong sieng (seekor macam) yang merupakan ancangan duwe pura tersebut, akhirnya dimulailah pencaharian pura tersebut. Setiap warga yang diutus tersebut paling, berbunyilah macam tersebut sehingga warga mengikuti suara macan tersebut, sepenjang perjalanan terus seperti itu jika paling macan tersebut bersuara,” terangnya.

Akhirnya, imbuh Riasna, rombongan ketemulah dengan pura tersebut seperti petunjuk di Pura Pulaki tersebut dimana pura itu diapit oleh sungai yang bernama campuhan, disana juga memang terdapat 2 pohon durian dan pohon bunga jepun, diatas batu memang ada pelinggih.

Penerangan Mati, Wisdom Tabrak Median Jalan Pembatas 2 Arah di Gilimanuk

“Dikarenakan tempat pura yang diatas batu tersebut sempit dibuatlah pura persimpangan, agar pura yang aslinya memang benar-benar disucikan bertempat di sebelah barat pura tersebut. Ditahun 2013 direhab total dibuatkan penataran berisi pelinggih meru. Setelah meminta petunjuk sulinggih (Pendeta Hindu) dibuatkanlah peraturan bahwa piodalan disana setiap tahun. Tepatnya di Anggar Kasih Perangbakat,” ujarnya.

Dipura diatas batu tersebut, kata Riasna, dulunya terdapat sebuah gambelan gong kuno sebanyak kurang lebih 2 pasang yang ditempatkan di lumbung pura tersebut. Sekarang jumlah daun gongnya sebanyak 7 buah. 1 pasang entah dihanyutkan oleh banjir atau dicuri.

Ratna Sarumpaet dan Sejumlah Tokoh Deklarasikan Kongres Perempuan

“Dulu sempat ada yang mengambil untuk dibawa ke pande besi. Orang yang mengambil gong tersebut, saat gong dipukul dengan besik terjadi keanehan dan ledakan menyebabkan rumah pande besi tersebut terbakar, sehingga gong itu langsung dikembalikan ke pura tersebut. Saya tidak tahu persis gong tersebut mungkin sudah dari dulu ada disana,: paparnya.

Lebih jelasnya Riasna mengatakan, terkait ancangan dari pura tersebut memang berupa macam berbagai warna. Yang biasanya sering kelihatan hanya macan warna hitam dan poleng. Akan tetapi yang berwarna hitan dikarenakan pingit jarang kelihatan, sedangkan yang warnanya poleng rajin sekali menampakna wujudnya. “Menurut ukurannya, kami juga bingung, kadang-kadang ukuran besarnya seperti kucing peliharaan, kalau memang ada sesuatu kadang-kadang besarnya menyamai kuda,” jelasnya.

Setelah ASN, Pemkab Jembrana Serahkan Insentif kepada Guru Ngaji dan P3N

Saat pembangunan Pura Persimpangan yang dikerjakan oleh beberpaa pekerja, mereka melihat duwe tersebut berupa kucing poleng. “Dikarenakan bersahabat dan lucu, para pekerja pun sempat diajak main-main, sehingga ada beberapa pekerja hendak nin membawa pulang untuk di pelihara. Setelah dikasi makan duwe tersebut lari langsung menghilang dimata pekerja tersebut,” tutupnya. Red Bali

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *