Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-64 Bank BPD Bali di Gedung Ksirarnawa
Denpasar, PERSINDO – Gubernur Bali Wayan Koster menilai performa Bank BPD Bali terus menunjukkan tren positif dan layak menjadi salah satu Bank Pembangunan Daerah (BPD) terbaik di Indonesia. Meski demikian, ia menegaskan bahwa pencapaian saat ini belum menjadi titik akhir karena masih terdapat peluang besar untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan keuntungan perusahaan.
Pernyataan tersebut disampaikan Koster saat memberikan arahan pada peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-64 Bank BPD Bali di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center, Denpasar, Sabtu (30/5/2026).
Dalam sambutannya, Koster mengungkapkan bahwa hingga Mei 2026 Bank BPD Bali telah membukukan laba sekitar Rp696 miliar. Dengan kinerja yang terus bertumbuh, ia optimistis laba perseroan dapat mencapai Rp1,4 triliun hingga Rp1,5 triliun pada akhir tahun. “Kalau tren pertumbuhan ini terus terjaga, saya optimistis laba Bank BPD Bali pada akhir 2026 bisa mencapai Rp1,4 triliun bahkan menembus Rp1,5 triliun,” ujar Koster.
Menurutnya, pencapaian tersebut menunjukkan daya saing Bank BPD Bali yang semakin kuat di tengah tantangan ekonomi global maupun persaingan industri perbankan nasional. Ia menilai kemampuan menghasilkan laba yang tinggi menjadi bukti efektivitas pengelolaan perusahaan.
Koster bahkan membandingkan Bank BPD Bali dengan sejumlah bank pembangunan daerah lain yang memiliki aset jauh lebih besar, namun tingkat profitabilitasnya masih berada di bawah BPD Bali. “Ada BPD yang asetnya mencapai Rp180 triliun, tetapi labanya hanya sekitar Rp300 miliar. Sementara Bank BPD Bali dengan aset sekitar Rp43 triliun justru mampu menghasilkan laba yang jauh lebih besar,” katanya.
Meski memberikan apresiasi tinggi terhadap pencapaian tersebut, Koster menegaskan masih banyak ruang untuk meningkatkan kualitas layanan, memperluas pembiayaan kepada masyarakat, serta memperkuat kontribusi terhadap pembangunan ekonomi Bali. “Saya memberi nilai A bahkan cumlaude untuk kinerja Bank BPD Bali. Namun saya yakin potensinya masih bisa ditingkatkan lagi sehingga memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat Bali,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Utama Bank BPD Bali, I Nyoman Sudharma, melaporkan bahwa hingga akhir Mei 2026 perusahaan tetap mencatatkan pertumbuhan positif di hampir seluruh indikator utama.
Total aset Bank BPD Bali tercatat mencapai Rp43,117 triliun, meningkat 8,19 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dana pihak ketiga tumbuh 5,68 persen menjadi Rp35,397 triliun, sedangkan penyaluran kredit meningkat 8,46 persen.
Sudharma menjelaskan, sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) masih menjadi penggerak utama pertumbuhan kredit. Penyaluran kredit UMKM meningkat hampir 11 persen, jauh melampaui rata-rata pertumbuhan nasional yang berada di kisaran 1 persen. “Pertumbuhan ini menunjukkan tingkat kepercayaan masyarakat kepada Bank BPD Bali tetap tinggi meskipun ekonomi global masih menghadapi berbagai tantangan,” jelasnya.
Dari sisi kesehatan bank, sejumlah indikator juga menunjukkan kondisi yang sangat baik. Capital Adequacy Ratio (CAR) berada di kisaran 30 persen, Return on Asset (ROA) mencapai 4,29 persen, Return on Equity (ROE) 28,39 persen, sedangkan rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) tetap terjaga rendah di angka 0,96 persen.
Sudharma juga mengungkapkan bahwa sejak tahun 2018, aset Bank BPD Bali meningkat signifikan dari Rp24,454 triliun menjadi lebih dari Rp43 triliun. Seiring peningkatan tersebut, posisi Bank BPD Bali di tingkat nasional juga naik dari peringkat kesembilan menjadi enam besar di antara 27 Bank Pembangunan Daerah di Indonesia.
Dengan capaian tersebut, Pemerintah Provinsi Bali optimistis Bank BPD Bali akan terus memperkuat perannya sebagai lembaga keuangan daerah yang sehat, kompetitif, sekaligus menjadi mitra strategis pemerintah dalam mendorong pembangunan dan pertumbuhan ekonomi Bali yang berkelanjutan.
*




