Persindonesia.com Jembrana – Sebut saja, ini sebuah panggung halaman. Kalangannya tak luas, tetapi mengundang taksu ketika sang penabuh dan penarinya menampilkan salah satu seni tradisional yang tergolong sangat terawat kendati kesenian ini telah berumur seratus tahun lebih. Orang-orang menyebutnya Seni Musik Tradisional Berko.
Sebelum pentas dimulai, seseorang dari anggota Seka Seni Berko, memukul kulkul (kentongan) menandakan pementasan Seni Berko akan segera dimulai. Tak jauh dari lokasi pementasan, masyarakat berdatangan, tak hanya kalangan tua, anak muda bahkan anak-anak juga ingin membalih (menonton) hasil ciptaan Pan Mider seorang petani yang juga seniman tradisional itu.
Di kalangan halaman kebun warga, lampu-lampu ditata cukup sederhana dan yang membuat seni tradisi ini unik, lampu sentir yang terpasang pada sebuah wajan. Lampu lentera ini konon sering disebut Berko. Tetapi kata Berko, sering disebut dasar berasal dari kata bero-bero neko, kemudian dikenal dengan kata Berko
“Mulanya hanya membuat satu buah gamelan yang terbuat dari bahan bambu, berbentuk grantangan dan berlaras durma (pelog). Membuat alat musik dari bambu ini, tiada lain untuk menghibur warga yang sedang bekerja di sawah. Alunan suara dari gamelannya sangat merdu, maka kala itu, warga secara bersama-sama memberikan ide untuk menciptakan suatu karya seni yang dapat digunakan dalam berbagai keperluan” ujar Wayan Sawitra, Ketua Sekaa Seni Berko Pendem di sela-sela Pementasan Tari Berko, Sabtu (25/4/2026).
Kegiatan pementasan ini merupakan bagian dari program danaindonesiana dari Kementerian Kebudayaan RI dalam pendokumentasian Karya/Pengetahuan Maestro untuk Tari Berko. Berko sendiri pada dasarnya berasal dari kata bero-bero neko. Lalu dikenal dengan kata Berko,” ujar Wayan Suwitra selaku Ketua Sekaa Seni Berko, menuturkan cikal bakal Berko.
Di sisi lain, melalui tutur I Putu Agus Satyawan seorang akademisi Seni Bali, bahwa bentuk Kesenian Berko memiliki nilai-nilai pendidikan yang dapat dijadikan pembelajaran bagi diri sendiri maupun kelompok masyarakat untuk menciptakan kehidupan yang tentram dan harmonis.
Bentuk kesenian Berko ini merupakan bentuk dinamik yang terdiri atas tarian dan melodi pengiring tari, sehingga berbentuk kesenian Berko yang merupakan kebulatan organis dan pada setiap unsurnya saling berkaitan satu dengan yang lainnya.






