Perlu Kajian Mendalam Untuk Hadang West Monsoon, Taruhannya Kelangsungan Destinasi Wisata Legian Kuta

 

Persindonesia.com Kuta Badung – Akibat datangnya musim angin Muson Barat (West Monsoon) kini Pantai Legian Kuta kembali menerima sampah kiriman, baik sampah organik ataupun anorganik. Kondisi ini menuntut kolaborasi yang lebih erat antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat. ini bukan hanya menjadi masalah pemerintah saja namun setiap individu memiliki peran dalam menjaga kebersihan pantai.

Berbagai inisiatif telah dilakukan, seperti aksi bersih-bersih rutin dan kampanye kesadaran lingkungan. Namun, upaya ini perlu ditingkatkan secara berkelanjutan. “Ini tidak hanya merusak keindahan alam, tetapi juga mengancam keberlangsungan sektor pariwisata. Sampah yang tidak terkelola dengan baik dapat mencemari laut dan merusak ekosistem, ujar Puspa Negara.

Menurutnya, kondisi ini tentu saja berdampak negatif terhadap citra pariwisata Bali. Wisatawan akan enggan berkunjung ke pantai yang kotor dan penuh sampah. “Kami berharap pemerintah bisa menyiapkan teknologi yang lebih mampu menanggulangi kondisi ini karena sudah termasuk kategori bencana sampah atau kejadian luar biasa di destinasi,” jelasnya.

Dirinya menyayangkan pantai yang indah akan selalu mengalami kondisi seperti ini setiap musim hujan atau musim angin barat. Oleh karena itu pemerintah perlu merancang grand design atau blueprint tentang penanganan dan penanggulangan sampah di pesisir pantai terutama di pantai yang menjadi destinasi unggulan seperti Pantai Kuta, Legian dan Seminyak.

“Kami usulkan kepada pemerintah untuk bisa menangkap terlebih dahulu atau melakukan catchmen area terhadap sampah yang mengambang di laut sebelum sampai ke daratan. Sinyalemen, berjuta-juta ton sampah mengambang di tengah laut yang bersumber dari aliran sungai dan juga dari daerah lain bahkan mungkin dari seluruh Indonesia bisa bergabung di tengah samudra, kemudian ditiup oleh angin dan menepi ke pantai yang arahnya ke barat,” jelas Puspa Negara saat melakukan bersih Pantai Legian.(Jumat 13 Des 1924).

Puspa Negara juga mengatakan, kondisi ini adalah fenomena tahunan dan sudah biasa terjadi. Pada zaman dahulu, masyarakat menganggap hal yang biasa karena sampah-sampah yang menepi dipergunakan untuk kayu bakar dan sebagian lagi dijadikan lemekan (pupuk) untuk tanaman-tanaman di pinggir pantai. “Kondisi sekarang tentu sudah berbeda sehingga langkah kongkrit yang dilakukan adalah bersih-bersih secara rutin,” ucapnya.

Pihaknya pula memberikan apresiasi kepada DLHK Kabupaten Badung yang sudah berjibaku tanpa mengenal waktu. Begitu juga pengurus Pantai Legian dan para pedagang pantai yang turut serta menjaga kebersihan Pantai Legian khususnya.

“Sebagai masyarakat, pihaknya tidak tinggal diam bersama pelaku usaha untuk care dan aware terhadap kebersihan pantai ini dengan melakukan aksi bersih-bersih secara stabil, periodik dan berkelanjutan,” pungkasnya. Krg

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *