Persindonesia.com Jembrana – Rice Milling Unit (RMU) Tibu Beleng yang terletak di Desa Penyaringan, Jembrana, yang sebelumnya digadang-gadang sebagai salah satu dari tiga RMU tercanggih di Indonesia dan memiliki alat pengolahan beras terlengkap di Bali, kini terancam tidak dapat beroperasi secara maksimal. Hal ini disebabkan oleh kekurangan modal dan bahan baku, meskipun pabrik ini dilengkapi dengan mesin modern dan memiliki kapasitas pengolahan hingga 60 ton per hari.
Pabrik ini dibangun dengan menggunakan dana CSR dari Bank Mandiri dan memiliki mesin separator serta destoner yang tercanggih di Bali. Meskipun demikian, pabrik yang semula diharapkan menjadi sentra pengolahan beras terlengkap di Bali dan menjadi objek edukasi untuk pelajar dan masyarakat, kini hanya mampu beroperasi dengan mengandalkan modal sebesar Rp 100 juta dari Koperasi Tani (Koptan) Sri Ananta. Sementara itu, PT. MBN (Mitra Bumdes Nusantara) yang sebelumnya sepakat untuk menyertakan modal Rp 900 juta, hingga saat ini belum memberikan komitmen lanjutan.
Menanggapi kondisi ini, Komisi II DPRD Kabupaten Jembrana, yang dipimpin oleh Ketua Komisi II DPRD Jembrana, I Ketut Suastika, atau yang akrab disapa Cuhok, melakukan peninjauan langsung ke pabrik RMU Tibu Beleng. Cuhok mengungkapkan bahwa pabrik ini merupakan bantuan dari Bank Mandiri yang diserahkan kepada Subak Tibu Beleng dan dikelola oleh PT. MJB (Mitra Jembrana Bahagia), sebuah perusahaan yang berafiliasi dengan Pemerintah Kabupaten Jembrana.
Namun, Cuhok menyoroti ketidakpastian terkait pemegang saham lainnya, yaitu Koptan Sri Ananta dan PT. MBN, yang belum melakukan penyertaan modal sesuai kesepakatan awal. Akibatnya, pabrik hanya dapat mengolah gabah dari Subak Tibu Beleng dengan kapasitas yang jauh lebih kecil dari kemampuan mesin yang tersedia.
“Pabrik ini belum bisa beroperasi maksimal karena belum ada penyertaan modal yang cukup. Saat ini, pabrik hanya mampu mengolah gabah dari Subak Tibu Beleng dengan kapasitas terbatas, dan produksi berasnya belum memenuhi standar premium,” ujarnya. Selasa (24/12/2024).
Lebih lanjut, Cuhok menjelaskan bahwa pabrik saat ini hanya mampu memproduksi sekitar 5 ton beras per minggu, padahal kapasitas mesin dapat mencapai 30 ton per hari. Selain itu, pabrik belum memenuhi standar kebersihan yang ditetapkan oleh lembaga terkait, seperti Food Station, sehingga beras yang dihasilkan belum memenuhi kriteria beras sehat.
“Produksi pabrik saat ini hanya dapat memenuhi kebutuhan terbatas. Gabah yang masuk hanya berasal dari sekitar 400 anggota Subak Tibu Beleng, namun hanya beberapa yang memasukkan gabah mereka ke pabrik. Sebagian besar petani memilih untuk menjual gabah mereka ke pihak lain karena terbatasnya dana yang tersedia di pabrik,” jelasnya.
Cuhok menambahkan bahwa sesuai dengan konsep awal, pabrik ini dimaksudkan untuk menjadi tempat pengolahan hasil panen padi di Kabupaten Jembrana. Namun, keterbatasan dana menyebabkan pabrik tidak dapat berfungsi sesuai tujuan tersebut.
“Tantangan terbesar saat ini adalah kekurangan modal dan bahan baku. Pabrik ini hanya bisa berjalan berkat subsidi dari Bank Mandiri, baik untuk gaji pegawai maupun operasional. Jika subsidi ini dihentikan, pabrik tidak akan bisa beroperasi,” tegasnya.
Imbas Cuaca Ekstrim, Harga Cabai Melambung di Pasar Kidul Bangli Jelang Nataru
Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Jembrana, yang sebelumnya mengalami defisit anggaran, belum dapat memberikan penyertaan modal. Namun, Cuhok mengungkapkan bahwa pihaknya telah merancang anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) yang surplus, sesuai dengan Permendagri Nomor 77 Tahun 2020, yang memungkinkan pemberian dana talangan untuk pabrik dan kelompok tani.
“Pada tahun 2025, kami akan mempertimbangkan untuk menghidupkan pabrik ini dengan dana talangan. Namun, salah satu pemegang saham, PT. MBN, hingga kini belum melepas sahamnya dan tidak memberikan komitmen dalam bentuk modal. Status mereka saat ini tidak jelas, dan hal ini menambah kesulitan,” pungkas Cuhok.
Pabrik RMU Tibu Beleng diharapkan segera mendapatkan dukungan yang memadai agar dapat beroperasi dengan kapasitas maksimal sesuai dengan tujuan awalnya, yaitu menjadi pusat pengolahan beras terlengkap di Bali dan mendukung kesejahteraan petani di Kabupaten Jembrana.
Sementara Direktur RMU Tibu Beleng I Wayan Sutama membenarkan adanya keterbatasan anggaran. Pihaknya masih melakukan komunikasi dengan pemegang saham yang sampai saat ini belum adanya kepastian. “Kami sudah bersurat kepada saham yang mayoritas, dan dijawab mereka menunggu rapat umum pemegang saham untuk agenda pengurangan saham. Sekarang kami hanya menunggu komitmen saja kalau memang sahamnya dijual kita hanya mencari investor lokal saja,” ucapnya.
Dukung Program Asta Cita, Polsek Tegalampel Dirikan Rumah Inisiasi untuk Gali Potensi
Terkait produksi beras di RMU, Sutama mengaku, pihaknya tetap memproduksi dengan modal yang sudah dimilikinya akan tetapi tidak maksimal. “Dalam sebulan kita hanya memproduksi hanya bisa memproduksi sebanyak 30 ton, harapan kita 30 ton itu bisa seminggu ditargetkan. Untuk intensif pegawai masing ditanggung oleh Bank Mandiri. Untuk dana talangan, kita sudah mengajukan di tahun 2025,” tandasnya. TS






