BANGLI|PersIndonesia.Com- Kampus Pascasarjana Program Ilmu Komunikasi Hindu, UHN IGB (Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus) Sugriwa menggelar Talkshow Literasi dan Inovasi Komunikasi Politik dalam menyongsong Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2024.
Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh lembaga Riset Independen, tingkat literasi politik di kalangan pemilih Indonesia terus meningkat. Lebih dari 70 persen (%) responden menyatakan mereka lebih memahami isu-isu politik dan mampu mengkritisi informasi yang diterima. Perubahan pola komunikasi yang cerdas dan terarah akan menjadi kunci penting untuk meraih dukungan masyarakat. Ini menandakan bahwa pemilih cenderung lebih cerdas dalam menilai dan memilih calon yang tepat.
Kepala Program Studi Pascasarjana Ilmu Komunikasi Hindu, Dr. I Dewa Ayu Hendrawathy Putri, S.Sos., M.Si, memaparkan sejatinya kegiatan Talkshow ini adalah rangkaian tugas akhir dari mata kuliah Komunikasi Politik. UHN IGB Sugriwa menjadi salah satu kampus menuju World Class University. Ilmu Komunikasi Hindu di UHN IGB Sugriwa juga menjadi Pionir yang menyelenggarakan Pendidikan S1-S3 Ilmu Komunikasi.
Kendati demikian, ilmu yang didapatkan dari para pakar dalam talkshow ini dapat memberikan pemahaman mengenai pandangan Politik. Terlebih saat ini sedang berlangsung tahapan Pemilu 2024. “Komunikasi politik dapat dilakukan oleh komunikator politik. Semua yang disampaikan tentunya berdasarkan penelitian. Dan dalam tahapan Pemilu saat ini kebanyakan menggunakan Platform Digital”, urainya.
Pakar Komunikasi Politik Indonesia, Dr. Gun Gun Heryanto, M.Si mengatakan, penggunaan Media Sosial (Medsos) juga menjadi faktor penentu dalam komunikasi politik. Data menunjukkan bahwa lebih dari 80% pemilih menggunakan Medsos sebagai sumber informasi politik utama mereka.
Oleh karena itu, Partai Politik (Parpol) dan Calon diimbau untuk memanfaatkan Platform tersebut secara efektif, dan menyebarkan informasi yang akurat dan berkomunikasi secara interaktif dengan pemilih. “Tujuan komunikasi politik dilakukan guna peningkatan pemahaman, mengembangkan penghargaan, menumbuhkan niat baik bekerjasama, dan mengontrol emosi serta resiko kerusakan”, jelasnya.
Inovasi komunikasi politik juga menjadi fokus utama para calon dan partai politik. Pemanfaatan teknologi seperti Artificial Intelligence (kecerdasan buatan) dan big data digunakan untuk menganalisis perilaku pemilih dan merancang pesan yang lebih tepat sasaran.
Kampanye Digital dan Konten Kreatif diharapkan dapat menjangkau pemilih muda dan meningkatkan partisipasi mereka dalam proses Demokrasi. Untuk meningkatkan literasi politik, berbagai inisiatif pendidikan dan sosialisasi telah dilakukan oleh pihak berwenang. “Workshop, seminar, dan pelatihan literasi politik diadakan di berbagai daerah untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang sistem politik, hak dan kewajiban sebagai pemilih”, bebernya.
Sementara, Guru Besar Ilmu Komunikasi UGM, Prof. Dr. Phil. Hermin Indah Wahyuni, M.Si, menyampaikan pendekatan komunikasi politik lewat Autopoeisis. Artinya, salah satu pencapaian komunikasi yang paling penting dalam komunikasi adalah membuat sistem yang mampu memproduksi dan merawat dirinya sendiri dengan membuat bagian penyusunnya sendiri. Komunikasi politik yang optimal akan melahirkan teks-teks politik yang dapat menjadi energi sistem politik untuk terus mengiritasi sistemnya sendiri.
“Jelang pemilu 2024, sistem politik Indonesia nampaknya mengalami gejala Blind Reflexivity yaitu hanya berorientasi pada kodenya sendiri dan gagal dalam berefleksi mengenai kepentingan elemen penting di luar dirinya”, tuturnya, dalam acara Talkshow di Kampus UHN IGB Sugriwa Bangli, Minggu (14/01/24).
Sejalan dengan itu, Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID, Bali, Agus Astapa menyampaikan perspektifnya terkait Pemilu 2024 ini bahwa keterbukaan dan transparansi calon dianggap sebagai nilai tambah. Data keuangan dan program kerja calon diharapkan dapat diakses secara mudah oleh Publik. “Partisipasi aktif dalam debat publik juga dianggap sebagai salah satu cara efektif untuk membangun kepercayaan masyarakat,” ungkap Ketua KPID Bali tersebut.
Dalam kesempatannya Ketua Bawaslu Provinsi Bali, I Putu Agus Tirta Suguna mengatakan, dengan literasi politik yang semakin tinggi dan inovasi dalam komunikasi politik yang terus berkembang, diharapkan Pemilu 2024 akan menjadi ajang demokrasi yang lebih berkualitas dan partisipatif.
Masyarakat diharapkan dapat memilih dengan cerdas, berdasarkan informasi yang akurat dan memilih Pemimpin yang mampu membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Berdasarkan data dari KPU RI serta International IDEA dan Ditjen Polpum pada Februari 2023, target partisipasi pemilih pada Pemilu Tahun 2024 sebesar 79,5 %. “Peran media sangat penting untuk transformasi informasi kepada masyarakat. Terlebih dalam masa kampanye ini,” tegasnya.(GS).






