Jokowi mengungkapkan bahwa dunia kini menghadapi berbagai tantangan serius, mulai dari perlambatan ekonomi, pengangguran tinggi, inflasi, hingga ketegangan geopolitik yang berdampak negatif pada rantai pasok global dan mengakibatkan banyak korban jiwa. Ia menyesalkan penurunan solidaritas internasional dan semakin melemahnya semangat multilateralisme yang berpotensi memperburuk fragmentasi global.
Jokowi menyoroti dampak terbesar yang dirasakan negara-negara berkembang, di mana jutaan rakyat menghadapi kesulitan. Ia mengingatkan bahwa hanya tersisa enam tahun menuju target 2030 untuk Sustainable Development Goals (SDGs), dengan pencapaian baru mencapai 17 persen.
Untuk mengatasi masalah ini, Jokowi mengusulkan empat langkah strategis. Pertama, pencapaian SDGs harus tetap menjadi prioritas utama pembangunan global, yang harus diselaraskan dengan prioritas nasional dan regional, termasuk Agenda 2063 Afrika, serta didukung oleh kemitraan multipihak.
Kedua, Indonesia berkomitmen untuk berperan aktif dalam solusi global, mendukung kepentingan negara-negara global selatan, serta memperjuangkan kesetaraan dan keadilan dalam pencapaian SDGs, sesuai dengan komitmen yang diusung sejak Konferensi Asia Afrika 69 tahun lalu.
Ketiga, Indonesia siap untuk menjalin kemitraan dengan berbagai pihak, terutama kawasan Afrika, yang merupakan kunci dalam agenda pembangunan global. Dalam forum IAF tahun ini, tercatat kesepakatan bisnis mencapai US$ 3,5 miliar, meningkat signifikan dibandingkan IAF 2018.
Keempat, Jokowi menekankan perlunya menghidupkan kembali solidaritas global untuk memperkuat kerja sama Selatan-Selatan dan Utara-Selatan. Ia juga mengumumkan bahwa Indonesia akan menyelenggarakan peringatan 70 tahun Konferensi Asia Afrika tahun depan sebagai bagian dari upaya memperkuat semangat solidaritas global.