“Miris”, Taksu Bali Dihantam Oleh Budayaan Politik, Para Spiritual Tak Mampu Membendungnya

Mambal Madung Gong Pilkada sudah tertabuh terdengar semakin nyaring, gemanya berdengung bersama hiruk-pikuk Pilkada, mengajak warga untuk memilih salah satu Paslon. Saling hujat dengan pembenaran masing-masing seakan terdengar sudah biasa, unjuk kekuatan besar-besaran, akankan kerama Bali bisa mempertahankan jatidirinya di dalam gempuran manis Pilkada.

Ida Bagus Pada Kusuma,SE (yang masa mudanya disapa Gus Popo) seorang budayawan yang terlahir dari rahim keluarga besar Gria Mambal Badung, memberikan steatmennya terkait “Pemimpin seharusnya satya, bhakti tulus, iklas, lascarya dan direstui alam”.

Kalau melihat dari sudut perkembangan politik, dalam hal ini secara pribadi merasa sangat khawatir karena semuanya justru budaya kita dipakai sebagai alat konsumsi politik, ini hal yang sangat berbahaya karna konsep budaya di Bali pada intinya adalah satya bhakti tuls dan iklas, sekarang umpanan-umpanan politik yang memberikan sebuah kenyamana-kenyamanan dalah artian material sehingga akan terjadi pergeseran tanggungjawab umat kita kepada budaya itu sendiri akibat masifnya sentuhan politik.

Saya sangat khawatir dan menyayangkan bilamana ini terus terjadi tentu budaya kita akan bergeser yang dulunya religious sepiritual bergeser kearah materialistis dan kepentingan, oleh karenanya bagi tokoh-tokoh Bali, Badung dan semuanya, budaya ini adalah pilar tertinggi yang kita jaga dan mari kita bangkitkan sebuah program yang betul-betul masyarakat itu menjadi mandiri dan bias berpijak diatas diri sendiri, yang notabene memberikan peningkatan kepada sumber daya manusia dan meningkatkan kreatifitas aktifitas orang kita di Bali.

Bantuan-bantuan memang seharusnya ada namun murni dari kepentingan-kepentingan politik semata, saya berani memberikan motifasi kepada sebuah daerah marikita melakukan sebuah aktifitas atau yadnya yang betul-betul bersumber dari rasa bhakti, tulus, iklas dan lascarya sehingga tidak akan menghilangkan taksu-taksu Bali yang ada.

Saya sangat menyadari bahwa sebuah kegiatan tanpa materi pastilah tidak akan berjalan mulus, namun jika semua dilakukan berdasarkan bantuan saja maka sepiritual kita berjalan terukur berdasarkan materi, bukan berdasarkan crada bhakti.

Semoga dari perkembangan jaman dan perkembangan pola pikir dari orang-orang Bali dan kabupaten Badung khususnya, semoga membuka sebuah pandangan bijak memberikan penilaian-penilaian cerdas terhadap langkah-langkah politisi yang masuk dalam jelang Pilkada, ini merupakan momen-momen yang dilakukan yang sebenarnya merupakan tanggungjawab rutin Pemerintah kita dan merupakan tanggungjawab.

Jadi Kebudayaan kita, tradisi kita saat ini sedang dihantam oleh kepentingan politik yang justru tidak memberikan pendidikan secara sosial psikologis kepada masyarakat, hantaman ini telah membuat budaya kita akan bergeser, semestinya politik dipisahkan dengan budaya.  Politik akan baik jika diarahkan ke ketahanan sosial, politik peningkatan kemampuan ekonomi, politik kesatuan masyarakat, politik dalam mewujudkan kesejahtraan sosial bagi masyarakat, politik dalam menjaga adat dan budaya, dll.

( Narasumber : IB.Pada Kusuma,SE / Gus Popo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *