Denpasar, persindonesia.com –Penuh rasa haru giat tabur bunga yang digelar oleh prajuru, pengelingsir Banjar Binoh Kaja, PKK Banjar Binoh Kaja, ST. Bineka Binoh Kaja, bekerja sama dengan Pemerintah Desa Ubung Kaja, dalam rangka memperingati hari Pahlawan 10 November di Goa Penyingkiran, mengenang semangat perjuangan para pejuang melawan penjajah, yang dilaksanakan di areal Goa Penyingkiran Banjar Binoh Kaja, Desa Adat Pohgading, Ubung Kaja, Denpasar Utara. Jum’at 10/11/2023.
Sebuah bukti sejarah jejak perjuangan rakyat Denpasar Banjar Binoh Desa Ubung Kaja melawan penjajah masih ada dan terpelihara dengan baik, ini dibuktikan dengan adanya sebuah goa sebagai tempat perlindungan para penyingkir atau kaum gerilyawan, para tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan melawan para penjajah.
Goa tesebut dinamakan “Goa Penyingkiran” terletak disebuah tebing sungai sisik (Tukad Yeh Lumbang), tepatnya di sebuah tebing di atas Pura Taman Penawengan. Keberadaan goa ini pertama kali ditemukan pada tahun 1970-an oleh Sekaa Semal (kelompok pemburu tupai). Berada di wilayah Banjar Binoh Kaja, Desa Ubung Kaja, Desa Pekraman Pohgading, Kec. Denpasar Utara, Denpasar-Bali, dan disahkan sebagai situs bersejarah warisan benda pada 14 Maret 2020.
Disetiap tanggal 10 November yang bertepatan dengan hari pahlawan, masyarakat melakukan tabur bunga untuk mengenang jasa-jasa pahlawan yang telah gugur berjuang mempertaruhkan jiwa raga demi harga diri sebagai bangsa yang anti penindasan.
Acara dihadiri Bapak Wali Kota Denpasar diwakili oleh Kepala Badan Kesbangpol Kota Denpasar : A.A Ngurah Dharma Putra,
Staff Kantor LVRI dan para pejuang veteran LVRI Denpasar sebanyak 10 orang yang di ketuai oleh Letkol I Made Dartha, Camat Denut diwakili Sekcam Denut, Perbekel Desa Ubung Kaja : I Wayan Astika, Sekdes Ubung Kaja serta staff, para Kepala Kewilayahan Ubung Kaja, Babinkamtibmas, Babinsa, Jro Bendesa Adat Pohgading : A.A Ngurah Ketut Supartha, prajuru, pengelingsir, warga banjar Adat Binoh Kaja sebagai penyelenggara, Kelian Adat se-Desa Adat Pohgading, anggota DPRD Kota Denpasar : I Nyoman Gede Sumara Putra,S.T.

Kelian Adat Banjar Binoh Kaja : I Ketut Suwena kepada media menjelaskan, “Salah satu kenangan perang kemerdekaan Indonesia di Kota Denpasar adalah Goa Binoh, disebut pula Goa Penyingkiran oleh masyarakat setempat yang ditemukan pada tahun 1970-an oleh Sekaa Semal (kelompok pemburu tupai). Goa ini berada di Banjar Binoh Kaja, Desa Ubung Kaja, Desa Pekraman Poh Gading, Kec. Denpasar Utara, Denpasar-Bali, tepatnya di sebuah tebing di atas Pura Taman Penawengan, sebelah Barat Tukad Sisik atau Tukad Batu Lumbang. Menurut informasi dari Men Garum, Pan Wana, selaku pelaku sejarah dan beberapa cerita dari Ni Made Rapi, I Made Luther, Djesna Winada serta para orang tua lainnya, diceritakan bahwa Goa Penyingkiran dibuat oleh seluruh pemuda/senendang Banjar Binoh Kaja, pada perang kemerdekaan Republik Indonesia melawan penjajah Belanda. Di Banjar Binoh Kaja terdapat dua goa, yaitu (1). Goa Penyingkiran di areal rumah Pan Nadi merupakan tempat berlindungnya para penyingkir/kaum gerilyawan saat itu, seperti Pak Kompyang Sujana, Pak Regig, Pak Djapa dan Pak sanggra. (2). Goa di areal rumah Pekak Nyemplo merupakan tempat penyimpanan alat-alat senjata seperti: granat, meriam dan lain-lain” jelas Pak Kelian.

Ketua Rombongan Veteran : Letkol I Made Dartha dalam sambutannya mengatakan “Warisan perjuangan ini harus di pertahankan dan diteruskan kepada generasi muda sebagai tulang punggung bangsa agar tidak melupakan sejarah perjuangan para pahlawan kita yang di rayakan setiap 10 November …merdeka…” ucap lantang Letkol Dartha.

Anggota DPRD Kota Denpasar : I Nyoman Gede Sumara Putra,S.T., yang juga hadir pada kesempatan tersebut disambangi media mengungkapkan “Terlalu kuatnya kenangan derita para orang tua yang terlibat dalam kondisi saat itu, menahan derita atas berbagai tragedi yang terjadi di areal goa ini, namun ceritanya hilang begitu saja. Mungkin beliau masih trauma bagaimana siksaan yang mereka dapatkan bila tau cerita tentang goa penyingkiran ini. Seiring berjalannya waktu generasi sekarang yang tidak tahu atau terlibat dalam kondisi perang kemerdekaan, sangat penasaran ingin mengungkap keberadaan goa penyingkiran tersebut. Lebih-lebih generasi yang mempunyai ikatan langsung dengan para pelaku terdahulu/pekak,bapak, ibu dan lain lain, untuk bisa diangkat sebagai bukti kenangan sejarah dan mempunyai kepedulian, betapa berat perjuangan para leluhur ikut memberi andil dalam kancah merebut kemerdekaan RI, yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945. Untuk itu mari bersama-sama dengan bergotong-royong nandurin karang awak dengan semangat para Pahlawan, kita bangkit dan bersatu menuju Denpasar yang maju namun tetap menjunjung nilai-nilai sejarah perjuangan para Pahlawan kita” pungkas Bli Mangde.

( Dudick )






