BALIKU SAYANG BALIKU MALANG

Ada Apa dg BALI? Saya sedih & terluka

*** Sangat menghentak perasaan kita, bahwa Bali masuk dalam daftar destinasi yang disarankan untuk tidak dikunjungi turis asing pada tahun 2025 oleh Fodor’s, salah satu penerbit panduan perjalanan Amerika Serikat (AS). Alasannya karena Bali mengalami pariwisata yang berlebihan atau overtourism.

Saat ini Bali mengalami kepadatan wisatawannya yang menciptakan ‘kiamat plastik’ yang menyeramkan
Bali memperoleh 5,3 juta kunjungan dari wisatawan mancanegara pada tahun 2023. Pantai-pantai Bali yang dahulu murni dan bersih, kini terkubur oleh sebanyak hampir 303 ribu ton sampah plastik, melansir The Independent.
Salah satu pakar pariwisata berkelanjutan, Kristin Winkaffe mengatakan bahwa overtourism berdampak pada kehidupan masyarakat Bali.
“Tanpa perubahan sikap, kita tidak hanya mempertaruhkan pemandangan indah, [melainkan] kita juga berisiko kehilangan identitas budaya itu sendiri,” tambahnya.

Selain Bali, berwisata ke Gunung Everest yang penuh petualangan juga diperingatkan karena banyaknya sampah dan berisiko bagi pekerja lokal.

Selain itu, Barcelona, Mallorca, dan Kepulauan Canary di Spanyol masuk dalam daftar ‘tujuan wisata Eropa yang tidak diinginkan penduduk setempat’., khusus untuk Bali, tentu hal ini berdampak buruk pada publisitas Bali sebagai destinasi terbaik ke dua di dunia versi tripadviser awal tahun 2024 imi, tentu pernyataan ini membuat kita kebakaran jenggot, karena memang ada benarnya, bahkan benar, meskipun pernyataan ini tendensius, namun kita harus segera introspeksi, evaluasi dan mengambil langkah langkah kongkrit dlm Merumuskan kembali kepariwisataan Bali masa kini, dan masa yg akan datang.

Pemerintah perlu memperkuat lawenforcement dan Sumonev. Bahwa Bali sebagai Destinasi seyogyanya pemerintah, & stakeholders focus dalam merencanakan dan melaksanakan mamagement kepariwisataan Bali. Kita harus segera berbenah dalam 4 hal yakni, sektor Infrastruktur, Sektor keamanan dan kenyamanan, sektor Service, sektor lingkungan dan sektor Branding/promosi. Pemerintah jangan terlena terutama Kab Badung dengan sumber PHR terbesar, jangan hambur hamburkan Anggaran Rakyat, pada program yang tidak mencerminkan perkuatan 4 sektor dasar dalam membangun kepariwisataan maju yakni Facilities, Safety, Service & Branding.

Terkait release Fodors ini, tentu akan dimanfaatkan oleh pesaing Bali untuk terus mewacanakan dituasi ini, oleh karena itu Pemerintah Provinsi Bali dan kab kota terutama Badung harus membuat Klarifikasi & Realease yang dapat mengcounter hal itu. Jika tidak mampu mengcounter, maka jelas pertanyaan saya, ngapain saja Gubernur atau Pemprov Bali serta Bupati/,Walikota selama ini? , bukan bermaksud mencari kesalahan, tapi faktanya situasi ini terjadi. Sebaiknya pemprov Bali atau representatifnya terutama Dinas Pariwisata Provinsi segera membuat Release counter dan berkomitmen menata ulang pariwisata Bali.

(Puspa negara, Ketua Fraksi Gerindra DPRD Badung).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *