Acara ini dihadiri Sekretaris Daerah Provinsi Bali, Dewa Made Indra, yang mewakili Penjabat Gubernur Bali. Selain itu, Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, serta Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa turut hadir memberikan dukungan. Bahkan, sejumlah duta besar dari negara-negara sahabat, seperti Norwegia, Uni Emirat Arab, Denmark, dan Inggris, menunjukkan solidaritas mereka.
Kolaborasi Multisektor dengan lebih dari 8.600 peserta yang terlibat, aksi ini dilaksanakan di 12 titik sepanjang pantai dari Kelan hingga Jimbaran. Sekda Dewa Indra menyoroti pentingnya peran masyarakat dalam penanganan sampah. “Semua pihak, mulai dari pemerintah, swasta, hingga komunitas, harus bersinergi. Penanganan sampah harus dimulai dari hulu, terutama dengan mengurangi konsumsi produk plastik sekali pakai,” ujarnya.
Sementara itu, Menteri Hanif Faisol Nurofiq menjelaskan bahwa pemerintah pusat telah menetapkan target ambisius melalui Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2018 tentang Penanganan Sampah Laut, yakni pengurangan sampah laut hingga 70 persen pada 2025. “Bali, sebagai destinasi wisata utama, memiliki tantangan besar, tetapi juga peluang untuk menjadi contoh nasional dalam pengelolaan lingkungan,” tegasnya.
Bantuan Peralatan dan Teknologi sebagai bentuk dukungan konkret, pemerintah pusat menyerahkan berbagai peralatan pengelolaan sampah, termasuk truk, motor pengangkut, serta trash boom yang akan dipasang di 14 titik sungai di Bali. Trash boom tersebut merupakan bantuan dari Uni Emirat Arab dan dirancang untuk mencegah sampah dari sungai mengalir ke laut.
Selain itu, pemerintah membentuk Tim Koordinasi Penanganan Sampah Laut di Provinsi Bali berdasarkan Keputusan Menteri Koordinator Pangan RI Nomor 3 Tahun 2025. Tim ini bertugas merumuskan langkah-langkah strategis guna mempercepat pengelolaan sampah di wilayah pesisir Bali.
Langkah Global dan Lokal Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menekankan bahwa kebersihan lingkungan merupakan bagian penting dari keberlanjutan sektor pariwisata. “Pariwisata yang berkelanjutan tidak hanya soal promosi, tetapi juga memastikan kelestarian lingkungan sebagai daya tarik utama,” katanya.
Partisipasi aktif organisasi internasional, seperti UNDP, menunjukkan perhatian dunia terhadap isu lingkungan di Indonesia. Duta besar dari berbagai negara yang turut hadir memberikan pesan bahwa penanganan sampah laut adalah tanggung jawab global yang memerlukan kerja sama lintas negara.
Bali sebagai model nasional dengan rangkaian aksi bersih-bersih yang sebelumnya juga dilakukan di Pantai Kuta pada awal Januari, Bali terus memperkuat posisinya sebagai daerah percontohan dalam pengelolaan sampah laut. Menteri Hanif menyebut, semangat masyarakat Bali menjadi contoh bagi daerah lain. “Ini adalah bukti bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil yang dilakukan bersama-sama,” tuturnya.
Aksi ini menjadi momentum penting untuk mengingatkan bahwa kelestarian lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh elemen masyarakat. Bali, dengan segala potensinya, diharapkan mampu menjadi pelopor dalam menyelesaikan permasalahan sampah laut di Indonesia.
Krg.





