“Kami tidak hanya membatasi penggunaan plastik sekali pakai, tetapi juga memprioritaskan edukasi kepada masyarakat dan pelibatan berbagai pihak, termasuk sektor swasta, untuk mendukung pengelolaan sampah yang lebih baik,” ungkapnya, Selasa (21/1/2025).
Sebagai bagian dari program tersebut, Pemprov Bali merancang berbagai kampanye kreatif untuk mengedukasi masyarakat mengenai bahaya sampah plastik. Salah satu inisiatif adalah pelaksanaan lomba inovasi lingkungan yang melibatkan siswa, komunitas, dan pelaku usaha untuk menciptakan produk ramah lingkungan dari bahan daur ulang.
“Kami ingin mengubah pola pikir masyarakat agar melihat sampah plastik sebagai peluang, bukan sekadar limbah. Kolaborasi dengan komunitas lokal juga menjadi kunci keberhasilan program ini,” tambah Dewa Made Indra.
Selain edukasi, Pemprov Bali memperkuat kolaborasi dengan sektor pariwisata, salah satu sektor terbesar di Bali. Hotel, restoran, dan tempat wisata diminta untuk berkomitmen dalam mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, serta menyediakan fasilitas pengelolaan sampah yang memadai.
“Kami bekerja sama dengan pelaku industri untuk memastikan pengelolaan limbah dilakukan secara bertanggung jawab, sekaligus memberikan edukasi kepada wisatawan agar turut berkontribusi,” jelasnya.
Langkah ini diharapkan tidak hanya mengurangi timbulan sampah plastik, tetapi juga memperkuat citra Bali sebagai destinasi wisata yang peduli lingkungan. Pemprov Bali optimistis bahwa dengan pendekatan berbasis edukasi dan kolaborasi, permasalahan sampah plastik dapat diatasi secara menyeluruh.
“Keberhasilan program ini memerlukan peran aktif semua pihak. Kami mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga keindahan Bali demi masa depan yang lebih baik,” pungkas Dewa Made Indra. Krg