Surabaya, Persindonesia.com – Setelah bergelut dengan berbagai jenis racun, baik alami maupun sintetis, selama hampir dua dekade, Dr. Tri Maharani sampai pada satu kesimpulan: “Indonesia kaya akan toksin.”
Namun, kekayaan ini tidak diimbangi dengan kemampuan yang memadai untuk menangani kasus-kasus keracunan, ditambah lagi dengan berbagai mitos dan kepercayaan yang menyelubunginya.
“Saya masih sering menemui korban keracunan, khususnya akibat gigitan ular, yang justru mendapatkan penanganan yang salah, seperti disiram air panas, diolesi bawang merah, hingga disetrum dengan listrik,” ungkap wanita yang menekuni bidang kedokteran gawat darurat ini.
Beruntung, pada 2009, Perempuan yang akrap disapa Dr. Maha ini, bertemu seorang ahli toksin asal Malaysia yang berkata, “Indonesia membutuhkan seorang ahli toksin.” Kalimat tersebut mendorongnya untuk menjadi orang Indonesia pertama yang mendalami bidang toksin.
Keahliannya dalam kedokteran gawat darurat tidak hanya membantu korban secara langsung, tetapi juga mendorongnya untuk berinovasi dengan menerbitkan buku Pedoman Penanganan Gigitan, Sengatan Hewan Berbisa dan Keracunan Tumbuhan dan Jamur pada tahun 2023.
Selain itu, Dr. Maha menciptakan Virtual Poison Center, sebuah aplikasi yang memungkinkan siapa saja untuk mengetahui cara yang tepat dalam menangani kasus keracunan. “Ide awalnya adalah untuk menyediakan sarana yang bisa diakses melalui internet,” jelasnya.
Di lapangan, Dr. Maha memiliki banyak cerita menarik, salah satunya ketika menangani kasus gigitan ular di Lembata, Nusa Tenggara Timur. Dalam kasus tersebut, ia harus menjemput antivenom langsung dari Thailand dan mengantarkannya sendiri kepada korban.

Perjuangan tersebut tidak hanya berhasil menyelamatkan nyawa korban, tetapi juga membawanya meraih Anugerah Women Champions of Snakebite 2020. Penghargaan tersebut sangat layak diterimanya, mengingat sejak 2014, ia menyediakan layanan konsultasi 24 jam secara gratis. Bahkan, ia mendonasikan 90 persen gajinya untuk membeli antivenom.
“Karena saya tahu orang-orang yang digigit ular ini berada dalam situasi darurat,” ungkapnya.
Tindakan tersebut selaras dengan filosofi hidup yang dipegangnya: “Kesempatan harus diperjuangkan agar kita tidak kehilangan momen untuk melakukan sesuatu yang berarti dalam hidup kita.” (Redaksi/birosby)






