Denpasar persindonesia.com, 16 Juli 2025 — Desa seni dan budaya Bongkasa kembali menunjukkan eksistensinya di panggung kesenian Bali. Kali ini, para seniman dari Sanggar Seni Sa Wirasa menampilkan sendratari bertajuk “Meanying Anyingan” dalam sebuah pagelaran seni tradisi yang mengangkat kisah sakral hubungan spiritual antara Tapakan Ida Batara Batur dan Tapakan Ida Batara Penataran Bukit Bongkasa.

Jro Mangku Wardana selaku ketua rombongan sekaligus penanggung jawab pementasan menjelaskan, sendratari ini merupakan wujud ekspresi budaya masyarakat Bongkasa yang mengusung filosofi Segara-Gunung sebagai keseimbangan alam dan spiritual.
“Kami dari Desa Bongkasa mempersembahkan drama tari berjudul Meanying Anyingan yang menggambarkan hubungan suci antara Tapakan Ida Batara dari Bongkasa dan Bukit. Melalui pagelaran ini, kami ingin menanamkan nilai-nilai budaya kepada generasi muda agar lebih memahami dan mencintai warisan leluhurnya,” ujar Jro Mangku Wardana.

Ketua Sanggar Seni Sa Wirasa, Putu Erik Darmika, menambahkan bahwa tema Meanying Anyingan atau “bermanja-manjaan” merupakan simbol kasih antara dua manifestasi suci yang berasal dari pura Penataran Bukit dan Pura Batur.

Sementara itu, Gusti Ngurah Gede Oka yang memerankan tokoh Sang Prabu dalam sendratari tersebut menyampaikan apresiasi kepada pemerintah yang telah membuka ruang bagi seniman lokal untuk terus berkarya.
“Peran pemerintah sangat positif. Kami para seniman merasa didukung dan difasilitasi untuk terus melestarikan seni budaya Bali melalui pentas-pentas seperti ini,” ujar Gusti Ngurah Gede.
Pagelaran ini menjadi salah satu upaya konkret pelestarian budaya Bali melalui seni pertunjukan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mendidik dan menyampaikan pesan spiritual yang mendalam kepada masyarakat.
Gus Karang*






