Ibu Putri Koster Buka Pameran “Tutur Ayu” Angkat Pesan Moral dan Kearifan Budaya Bali

Buka Pameran Seni Rupa “Tutur Ayu”, Ibu Putri Koster Tegaskan Bali Harus Tetap Berakar pada Budaya

DENPASAR Persindonesia.com – Pameran seni rupa bertajuk Tutur Ayu yang digelar oleh Komunitas Soko Guru menghadirkan pesan reflektif tentang pentingnya menjaga nilai-nilai budaya Bali di tengah perubahan zaman. Kegiatan ini berlangsung di Griya Santrian Art Gallery, Sanur, Jumat (6/3) malam, dan menampilkan karya para perupa yang juga berperan sebagai pendidik seni.

Sebanyak 18 lukisan dipamerkan dalam kegiatan tersebut. Karya-karya itu merupakan hasil kreativitas tiga seniman Bali, yakni Ketut Marra, I Wayan Santrayana, dan I Gede Budiartha. Ketiganya dikenal tidak hanya aktif berkarya, tetapi juga konsisten membagikan pengetahuan seni kepada generasi muda.

Penulis sekaligus pemerhati seni, I Made Susanta Dwitanaya, menjelaskan bahwa pameran ini lahir dari perjalanan panjang para seniman yang selama ini mendedikasikan diri dalam dunia seni rupa. Menurutnya, karya-karya yang ditampilkan tidak sekadar menghadirkan nilai estetika, tetapi juga memuat jejak pengabdian dan proses panjang dalam merawat tradisi berkesenian. “Dalam perjalanan pengabdian itu, ada banyak jejak yang mungkin tidak selalu tertulis, namun tetap hidup melalui karya, nilai, serta semangat berbagi pengetahuan kepada generasi berikutnya,” ujarnya.

Ia menambahkan, tema Tutur Ayu mengandung makna penting sebagai pengingat akan nilai kebijaksanaan yang tumbuh dari ketekunan merawat budaya. Di tengah arus perubahan yang terus berlangsung, pesan tersebut dinilai relevan sebagai ruang refleksi bagi masyarakat Bali.

Melalui karya seni yang ditampilkan, para perupa berupaya menggambarkan dinamika kehidupan masyarakat serta perubahan sosial yang terjadi. Lukisan-lukisan tersebut diharapkan dapat menjadi sarana dialog antara seniman dan publik mengenai upaya menjaga jati diri budaya Bali.

Pameran ini sekaligus menjadi wadah apresiasi seni rupa sekaligus pengingat bahwa nilai-nilai kearifan lokal perlu terus dirawat agar tetap hidup dan berkembang seiring perkembangan zaman.

@Krg

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *