Mahasiswa Undiknas Ciptakan “EcoReceipt”, Struk Ramah Lingkungan yang Bisa Ditanam

Diskusi Aktif Tim UNDIKNAS BUSINESS MODEL CANVAS “ECO RECEIPT”

Denpasar 02/05/2025, Persindonesia.com – Inovasi kreatif kembali lahir dari kalangan mahasiswa. Tim Pandewi dari Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) menghadirkan gagasan bisnis unik bernama EcoReceipt, yakni struk belanja berbahan seed paper yang tidak hanya berfungsi sebagai bukti transaksi, tetapi juga dapat ditanam menjadi tanaman.

Inovasi ini muncul sebagai respons terhadap meningkatnya penggunaan struk kertas di sektor ritel dan kuliner yang berkontribusi pada penumpukan limbah. Dalam praktiknya, struk konvensional umumnya bersifat sekali pakai dan sulit didaur ulang secara optimal, sehingga berdampak negatif bagi lingkungan.

Melalui EcoReceipt, tim mahasiswa menawarkan solusi berkelanjutan dengan mengubah limbah menjadi sesuatu yang bernilai. Struk yang biasanya dibuang kini justru dapat dimanfaatkan kembali dengan cara ditanam, sehingga turut mendukung penghijauan lingkungan. “EcoReceipt dirancang bukan hanya sebagai alat transaksi, tetapi juga sebagai media edukasi lingkungan yang mendorong masyarakat untuk lebih peduli terhadap pengelolaan limbah,” ungkap tim penyusun dalam proposal Business Model Canvas (BMC) mereka.

Dari sisi bisnis, produk ini dinilai memiliki peluang yang cukup menjanjikan. Target pasar utama mencakup pelaku usaha seperti UMKM, kafe, restoran, hotel, hingga toko ritel yang memiliki intensitas penggunaan struk tinggi. Selain itu, segmen konsumen individu seperti generasi milenial, Gen Z, dan wisatawan juga menjadi sasaran, mengingat meningkatnya tren gaya hidup ramah lingkungan.

EcoReceipt juga menawarkan nilai tambah bagi pelaku usaha, yakni peningkatan citra sebagai brand yang peduli lingkungan. Dengan konsep ini, produk dapat dipasarkan dengan harga premium untuk menutupi biaya produksi yang relatif lebih tinggi dibandingkan kertas biasa.

Berdasarkan simulasi keuangan, usaha ini mencapai titik impas (Break Even Point/BEP) pada penjualan 2.500 unit. Jika penjualan meningkat menjadi 3.500 unit, usaha berpotensi menghasilkan keuntungan sebesar Rp400 ribu. Sebaliknya, jika penjualan turun di bawah 1.500 unit, bisnis akan mengalami kerugian.

Dalam operasionalnya, EcoReceipt didukung oleh berbagai komponen utama, mulai dari bahan baku seed paper, tinta ramah lingkungan, hingga kerja sama dengan percetakan dan pelaku usaha sebagai mitra distribusi. Selain itu, strategi pemasaran dilakukan melalui media sosial, website, hingga partisipasi dalam pameran dan kampanye lingkungan.

Tidak hanya berfokus pada keuntungan ekonomi, EcoReceipt juga memiliki dampak sosial yang signifikan. Inovasi ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan, sekaligus mendorong kebiasaan baru dalam mengelola limbah secara kreatif.

Ke depan, tim menargetkan pengembangan usaha secara bertahap, mulai dari pasar lokal dalam jangka pendek, ekspansi regional dalam 1–3 tahun, hingga menjadi alternatif standar struk ramah lingkungan di Indonesia dalam 3–5 tahun mendatang.

Dengan konsep “Turning Waste Into Growth”, EcoReceipt diharapkan menjadi langkah nyata dalam menggabungkan inovasi bisnis dan kepedulian lingkungan, sekaligus membuka peluang usaha berkelanjutan di masa depan.

UNDIKNAS BUSINESS MODEL CANVAS “ECO RECEIPT” Turning Waste Into Growth IDENTITAS TIM Nama Tim Pandewi Nama Bisnis Eco Receipt Bidang Usaha Pengolahan Limbah & Teknologi Ramah Nama dan Logo Produk Lingkungan ECO RECEIPT INFORMASI PENYUSUNAN Tempat Universitas Pendidikan Nasional Tanggal Jumat, 27 Maret 2026, TIM : Ketua : Ni Luh Putu Dea Adinda Putri, Anggota :  Ni Putu Shanti Arindita, Ida Ayu Agung Diah Prabaswari & Ni Putu Gita Widia Pratiwi Natasha Cristy.

Hingga berita ini dinaikkan, diskusi Tim sedang berlangsung.

(RedPersindoBali)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *