PANDEMI YANG “MENGINJAK” PARA PEKERJA SENI

SURABAYA,Persindonesia,- Hari ini 10/03/2021, saya berkesempatan bertemu dengan seorang yang bisa di bilang seniman di Surabaya.

Seorang seniman yang bergelut di bidang pigura, mahar pernikahan dan hiasan dinding ini sudah lama menekuni pekerjaannya sejak tahun 2002. Dia juga tak jarang sering berbagi ilmu kepada warga dan pemuda pemudi di sekitar tempat tinggalnya dan mengajak mereka yang mau belajar untuk bisa berkarya bersama agar dapat menambah mata pencaharian mereka.

Ketika berkunjung ke tempat tinggalnya di daerah Setro Baru Kelurahan Dukuh Setro Kecamatan Tambaksari Kota Surabaya, lelaki yang juga menjadi jurnalis di sebuah media online ini sedang berkreasi dan saat saya meminta waktunya sedikit untuk berbincang bincang mengenai usahanya di masa pandemi ini. Dia menuturkan bahwa sejak di berlakukannya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) pertama yang mengharuskan akad nikah dan acara resepsi pernikahan tidak di perbolehkan sangat berdampak pada usahanya tersebut.

“Sejak PSBB pertama sempat 2 bulan tidak ada pemasukan dan para pekerja seni di bidang ini banyak yang mengeluh akan mata pencaharian mereka ketika sedang kumpul”, tutur mas Nur Khotib atau lebih akrabnya dipanggil mas Jhon Tattoo.

“Namun sejak larangan tersebut di hapus serta hanya memperbolehkan akad nikah dan masih melarang resepsian pendapatan saya mulai berangsur mulai ada pemesan walau tidak serame sebelum pandemi”, imbuhnya kepada wartawan Media Persindonesia.com

Dia juga ingin pemerintah segera menyikapi masalah pandemi ini secepat mungkin agar pengusaha kecil di Surabaya yang terdampak bisa segera teringankan bebannya dan berharap para pekerja seni bisa berkarya seperti masa sebelum pandemi. ( ZAHRA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *