Ini, Warisan Leluhur Yang Masih Terjaga Sampai Kini

Surabaya,Persindonesia.com,- Setiap tujuh hari setelah lebaran biasanya orang Jawa bikin ketupat dengan opor ayam atau sayur Manisa, Pak Ali asal desa Kedamean Gresik rela berjualan janur kelapa, ketupat dan lepet sudah jadi di pasar Simo Katrungan demi menjaga tradisi leluhur, Kamis, 20/5/2021.

“Dari Kedamean saya berangkat pukul 03.00 nanti sholat Shubuh diperjalanan, saya jualan janur satu ikat isi 10 lembar harga 8.000 kalau ketupat dan lepet yang sudah jadi satu ikat isi 10 biji harga 10.000, klo beli banyak akan saya diskon harganya,” kata Pak Ali ketika ngobrol santai dengan team MPI ( Media Persindonesia.com ).

Ketika team MPI berdialog dengan budayawan asal desa Hendrosari Gresik beliau hanya menyebut panggil saja “Mbah Gondrong” dari ngobrol ringan tersebut banyak mengupas cerita asal muasal Ketupat dan Lepet.

“Ketupat itu tradisi leluhur Jawa yaitu ide dari Sunan Kalijaga, Filosofinya adalah Ketupat atau Kupat merupakan arti dari Ngaku Lepat dan Laku Empat maksutnya Mengakui Kesalahan serta melakukan empat tindakan, melakukan sungkeman sebagai wujud mengakui kesalahan dan mohon maaf kepada orang tua dan saudara serta para sahabat, tak lupa lakukan empat tindakan yaitu : Lebaran (saling memaafkan), Luberan (mengajak bersedekah), Leburan (setelah saling memaafkan berkomitmen untuk selalu berbuat kebaikan dikemudian hari), Laburan (berasal dari kata labur biasanya kapur kapur artinya menjaga putih atau kesucian hati), kenapa dibungkus Janur asal muasal dari bahasa Arab Ja’a nur (telah datang cahaya), bentuk kupat segi empat melambangkan hati manusia, ketika kupat dibelah isinya putih bersih maksutnya hati yang putih tanpa adanya iri dan dengki,” ungkap Mbah Gondrong.

“Klo filosofi Lepet itu silep kang rapet (simpan dengan rapat) setelah melakukan saling maaf memaafkan mari saling menyimpan aib atau keburukan keluarga, tetangga, sahabat agar tidak disebarkan apalagi sampai ke sosial media, agar hubungan semakin lengket dan erat makanya bahannya lepet adalah ketan dalam lepet,” masih ungkap Mbah Gondrong.

Dengan obrolan ringan team MPI dengan Mbah Gondrong, benar-benar membuka wawasan indahnya budaya kuliner leluhur yang sarat dengan makna mendalam sekali buat menjalani kehidupan di saat ini. (Anang Takim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *