Desa Wisata Kakao, Merupakan Aset Berharga Yang Diakui Dunia

 

Persindonesia.com Jembrana – Desa Pohsanten merupakan desa yang berbasis pertanian yang dikenal dengan Desa Wisata Kakao yang hasil fermentasinya mendapat pengakuan terbaik di dunia mendapat sertifikat dari negara Perancis yang dikelola oleh Made Sugandi, dan tidak terpengaruh dengan masa pandemi Covid-19.

Pastikan Tidak Ada Warga Melukat, Polsek Sukawati Tutup Kawasan Pantai

Desa Wisata Kakao tersebut merupakan satu-satunya yang ada di Kecamatan Mendoyo, hal tersebut merupakan aset berharga yang dimiliki oleh Desa Pohsanten, selain itu juga hasil fermentasi telah merambah pasar eksport ke berbagai negara seperti Negara Swis, Australia, Jepang dan lain sebagainya.

Tidak hanya itu, Desa Pohsanten juga memiliki potensi dengan daya tarik wisata yang kondisi alamnya masih terjaga kelestariannya. Melalui Porkdarwis selama ini sudah mengembangkan wisata tracking yang jaraknya sekitar 4,4 kilometer menuju air terjun yeh Mesehe.

Saat dikonfirmasi awak media (29/8), Perbekel Desa Pohsanten I Gusti Agung Kade Sultra Gunadi Putra mengatakan, desa pohsanten ini memang tercatat sebagai penghasil kualitas kakao terbaik di dunia. Hal tesebut terbukti hasil fermentasi kakao yang telah diuji di Negara Perancis dan mendapatkan sertifikat.

“Sertifikasi tersebut diberikan kepada warga kami yang seorang petani coklat sekaligus sebagai penggiat pengolahan kakao kepada Made Sugandi. Karena beliau sebagai produksi coklat fermentasi, Kami pemerintah desa selalu memberikan support dukungan penuh kepada pembudidaya dan pengembangan kakao di desa ini,” terangnya.

Banyupinaruh Pantai Blahbatuh Ditutup

Terkait dengan hasil fermentasi milik petani, Sultra menambahkan, mereka menghasilkan paling sedikit 5 ton dan itu pun hasilnya langsung dikirim kepada buyer yang ada di beberapa negara seperti Jepang, Australia dan Swiss. Dalam hal ini, fermentasi yang dihasilkan oleh Desa Wisata Kakao mengunggulkan berbagai macam aroma rasa, seperti aroma pedas.

“Penyebab dari aroma pedas tersebut, dengan adanya tumbuhan pohon pala disekitar tempat tersebut, sehingga menghasilkan aroma yang berbeda. Terkait dengan dimasa pandemi ini yang sudah hampir 2 tahun lamanya produksi fermentasi kakao masih berjalan normal, tidak terpengaruh dengan situasi pandemi ini,” tutup Sultra. (sb/id)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *