Wali Kota Pangkalpinang bersama jajaran Pemkot dan tamu undangan berfoto bersama pengurus Alobi Foundation, Minggu (21/6/2026) malam.
Pangkalpinang, persindonesia.com —
Perjuangan panjang Alobi Foundation dalam menyelamatkan satwa liar dan menjaga kelestarian lingkungan, akhirnya berbuah penghargaan tingkat nasional. Yayasan Pelestarian Flora dan Fauna Babel atau Animal Lovers of Bangka Island (Alobi) Foundation berhasil meraih Kalpataru Adya 2026, kategori Penyelamat Lingkungan dari Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia.
Penghargaan tersebut diserahkan di Jakarta Convention Center, Jakarta Pusat, Kamis (11/6/2026) lalu. Atas capaian itu, Pemerintah Kota Pangkalpinang menggelar malam ramah tamah dan apresiasi bagi Alobi Foundation di taman depan Rumah Dinas Wali Kota Pangkalpinang, Minggu (21/6/2026) malam.
Wali Kota Pangkalpinang, Saparudin, menyebut penghargaan itu sebagai buah dari konsistensi dan kerja keras Alobi Foundation selama 12 tahun dalam upaya penyelamatan lingkungan hidup dan satwa liar.

“Malam ini sengaja saya pilihkan tempat ini agar sesuai dengan tema ramah tamah untuk Alobi Foundation yang menerima anugerah tertinggi bidang lingkungan. Ini adalah buah perjuangan dan kerja keras mereka selama 12 tahun,” sebut Saparudin.
Menurut dia, prestasi Alobi Foundation bukan hanya menjadi kebanggaan organisasi, tetapi juga membawa nama baik Pangkalpinang dan Bangka Belitung di tingkat nasional. Ia menilai capaian tersebut patut menjadi inspirasi bagi generasi muda dan pegiat lingkungan di daerah.
Saparudin pun mengajak anak-anak muda untuk meneladani semangat Alobi Foundation, yang terus bergerak secara konsisten, totalitas, dan tanpa henti dalam menjaga kelestarian alam.
Selain memberi apresiasi, Saparudin juga menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara aktivitas manusia dan kelestarian lingkungan. Menurutnya, kerusakan alam dan kepunahan flora-fauna akan berdampak besar terhadap keberlangsungan ekosistem, sekaligus menghilangkan ruang pembelajaran penting bagi generasi mendatang.
Ia menyoroti Bangka Belitung sebagai daerah yang kaya sumber daya tambang, seperti timah, silika, zirkon, ilmenit hingga mineral tanah jarang. Namun, di sisi lain, aktivitas pertambangan disebut tetap membawa dampak terhadap lingkungan, baik di darat maupun di laut, sehingga harus diimbangi dengan langkah pemulihan ekosistem secara nyata.

“Pertambangan jelas merusak lingkungan. Namun tugas kita harus membuat itu seimbang. Dari sektor pertambangan mendukung pembiayaan pembangunan, sementara penggiat lingkungan terus menanam dan menjaga hewan agar alam tetap nyaman,” tegasnya.
Ia menambahkan, upaya penyelamatan lingkungan hari ini merupakan tanggung jawab bersama, demi keberlangsungan hidup generasi masa depan. Karena itu, ia berharap Ketua Alobi Foundation, Langka Sani, beserta komunitas serupa dapat terus menjadi simbol perjuangan dan teladan bagi generasi muda dalam menjaga alam.
Malam apresiasi tersebut turut dihadiri sejumlah tokoh dan pejabat, di antaranya Sejarawan dan Budayawan Bangka Belitung Dato’ Akhmad Elvian, Plt Sekretaris Daerah Kota Pangkalpinang Budiyanto, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Juhaini, Kepala Bapperida M Belly Jawari, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Fahrizal, Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Suharto, Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Samri, perwakilan PT Timah, PLN, serta Komunitas Bujang Squad.

Alobi Foundation didirikan oleh Langka Sani pada 2013. Berawal dari komunitas pecinta satwa liar, Alobi kemudian berkembang menjadi yayasan yang fokus pada penyelamatan satwa dan pelestarian lingkungan, khususnya di Bangka Belitung. Kini, wilayah kerja Alobi Foundation mencakup Pulau Bangka, Belitung, hingga Sumatera bagian Selatan.
Berkolaborasi dengan PT TIMAH, Yayasan yang beralamat di Jalan Sumedang, Kelurahan Kejaksaan, Pangkalpinang itu juga telah memiliki Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) di Kampung Reklamasi Air Jangkang, Dusun Sinar Rembulan, Desa Riding Panjang, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka.
Pusat penyelamatan satwa tersebut berdiri di atas lahan sekitar 4,5 hektare dan dilengkapi 50 kandang satwa serta fasilitas rehabilitasi lainnya. Sepanjang 2014 hingga sekarang, Alobi Foundation tercatat telah melepasliarkan hampir 8000 ekor satwa liar ke habitat alaminya.
Penghargaan Kalpataru Adya 2026 menjadi penanda bahwa kerja panjang menjaga alam tidak pernah sia-sia. Di tengah tekanan eksploitasi sumber daya alam, kiprah Alobi Foundation menjadi pengingat bahwa pelestarian lingkungan bukan hanya tugas segelintir orang, melainkan tanggung jawab bersama demi masa depan Bangka Belitung dan generasi yang akan datang. (B2N)






