Anjing Peliharaan Gigit Empat Orang, Termasuk Pemiliknya di Banjar Anyar Kelod

Persindonesia.com Jembrana – Seekor anjing liar yang telah dijinakkan dan dipelihara oleh sebuah keluarga di Banjar Anyar Kelod, Desa Penyaringan, Kecamatan Mendoyo, Jembrana, mendadak menyerang dan menggigit empat orang anggota keluarga, termasuk pemiliknya sendiri. Peristiwa ini terjadi pada pagi hari dan telah menimbulkan kepanikan di lingkungan sekitar.

Kelian Banjar Anyar Kelod, I Kadek Winastra, mengungkapkan bahwa insiden bermula ketika anjing yang dikenal galak tersebut dipukul dengan sapu oleh pemiliknya lantaran menunjukkan perilaku agresif. Setelah dipukul, anjing itu kabur ke jalan dan menyerang dua pengendara motor yang sedang melintas. Korban pertama diketahui bernama I Made Aribawa, disusul oleh I Gede Putu Wawah Cahyani.

“Setelah menggigit dua warga, anjing itu kembali ke rumah pemiliknya,” ujarnya, Minggu (25/5/2025)

Waspada Cuaca Ekstrim, BMKG Predeksi Hingga Agustus 2025 Indonesia Dilanda Kemarau Basah

Namun kejadian tak berhenti di situ, lajut Winastra, mertua pemilik anjing datang ke rumah untuk menjenguk cucunya, anak dari I Nengah Yasa Tenaya yang tengah sakit batuk. Saat tiba di rumah, mertua tersebut justru diserang oleh anjing yang sama. “Di rumah hanya ada anak dan istri pemilik anjing, yang kemudian meminta pertolongan,” terangnya.

Lebis jelasnya Winastra mengatakan, Ni Luh Gede Yuliani, anak dari Ni Ketut Dastri, segera mencari bantuan. Nyoman Mahendra Putra pun datang untuk membantu, namun ia juga ikut digigit oleh anjing tersebut.

Sementara, Pelaksana Tugas Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Keswan-Kesmavet) Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Jembrana, I Gede Putu Kasthama, saat dikonfirmasi, membenarkan adanya kasus tersebut. Ia menyebutkan bahwa anjing tersebut sebenarnya telah divaksin rabies sesuai jadwal.

Setelah Berjuang Melawan Sakit Parah, Kadek Ari Tutup Usia di Negeri Sakura

“Namun dua hari setelah vaksinasi, anjing tersebut justru menggigit warga,” jelasnya.

Karena dianggap berbahaya, imbuh Kastama, anjing itu kemudian dieliminasi oleh Tim Tisira Desa Penyaringan. Dinas terkait telah mengambil sampel otak anjing untuk dikirim ke Balai Besar Veteriner (BBVet) Denpasar guna memastikan apakah hewan tersebut positif rabies. “Sampai saat ini hasil uji laboratorium masih belum keluar, kami menunggu hasil tersebut untuk memastikan hasilnya agar bisa melakukan penanganan dini,” pungkasnya. Ts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *