Denpasar Bali – Pemerintah Provinsi Bali mengintensifkan kolaborasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) RI untuk menghadapi potensi cuaca ekstrem yang diperkirakan terjadi menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). Penjabat (Pj) Gubernur Bali, SM Mahendra Jaya, menegaskan pentingnya mitigasi bencana demi keselamatan masyarakat serta kenyamanan wisatawan.
“Kami terus memperkuat koordinasi dengan BMKG agar informasi cuaca disampaikan secara cepat dan akurat. Dengan begitu, masyarakat dan wisatawan bisa lebih waspada dan mempersiapkan diri,” kata Mahendra Jaya dalam rapat koordinasi bersama BMKG RI di Denpasar, Minggu (15/12).
Mahendra Jaya juga mendorong penggunaan teknologi, seperti aplikasi Info BMKG dan INA-WIS, untuk memantau informasi cuaca terkini. “Ini sangat bermanfaat, terutama bagi nelayan, pelaku usaha maritim, dan wisatawan. Kami ingin peringatan dini seperti ini diketahui luas, sehingga risiko kecelakaan dapat diminimalkan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala BMKG RI, Dwikorita Karnawati, mengungkapkan bahwa fenomena La Nina lemah, Madden-Julian Oscillation (MJO), dan cold surge diperkirakan akan memicu peningkatan curah hujan di Bali hingga Maret – April 2025. “Potensi banjir, tanah longsor, dan gelombang tinggi cukup signifikan. Kami siap mendukung Bali dengan sistem peringatan dini yang menjangkau hingga tingkat kecamatan,” ungkapnya.
Mahendra Jaya menambahkan, pihaknya telah menginstruksikan Dinas Pariwisata, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan camat untuk aktif mensosialisasikan informasi cuaca kepada masyarakat dan wisatawan. “Koordinasi ini diharapkan dapat memberikan rasa aman bagi semua pihak yang beraktivitas di Bali, terutama selama libur panjang,” tutup Mahendra Jaya.
Hadir dalam rapat koordinasi tersebut sejumlah pejabat daerah, termasuk Asisten I Setda Provinsi Bali, Kepala BPBD Bali, dan Kepala Bappeda Bali.*






