Persindonesia.com – Multikultural kehidupan sosial di Bangka belitung sangat beragam. Kehidupan sosial yang mencerminkan sebuah perbedaan ras, suku, agama, budaya, bahkan kehidupan sosial nya juga sangat ramah tamah, yang saling menghargai dengan beragam etnis dan suku sehingga tumbuh dan berkembang di kepulauan Bangka belitung dengan memiliki rasa kedamaian.
Kehidupan sosial seperti ini lah yang dapat saling menguntungkan satu sama lain. Karena dalam kehidupan sosial tidak lagi memandang sebuah etnisitas manakala tujuan nya adalah membentuk kedamaian sebuah perbedaan multikultural yang saling membantu dalam keadaan apapun. Karena dapat dipastikan sebuah etnis itu baik dan saling membantu.
Dengan persoalan agama adalah sebuah keyakinan diri kepada yang Maha Esa. Sehingga tidak dapat di campur adukan keyakinan seseorang dengan sebuah kehidupan sosial. Maka dari itu sebuah etnis tidak lah penting dalam kehidupan sosial karena yang terpenting adalah saling bermanfaat untuk kehidupan orang banyak dan keluarga.
Dengan adanya kehidupan sosial ini maka terbentuklah kehidupan yang saling menghormati, menghargai, dengan rasa kedamaian. Maka tak elok bila mana kita masih membedakan sebuah etnisitas untuk kehidupan sosial. Dengan adanya kehidupan sosial kita saling menghargai budaya etnis seseorang yang mereka yakini.
Salah satu contohnya adalah budaya tionghoa yaitu CHENG BENG. Dimana penulis melihat sendiri adanya kegiatan cheng beng di Bangka yang beralokasi di pemakaman umum Yayasan Sentosa Kota Pangkalpinang, JL. Soekarno Hatta, Semabung Baru, Kota Pangkalpinang Kepulauan Bangka Belitung yang dikatakan makan terbesar se-Asia Tengara.
Bahwa bagian dari pembersih makan etnis tionghoa ini adalah kebanyakan orang melayu. Dibayar dengan cukup banyak dalam satu makam bisa hampir jutaan rupiah. Dengan hal ini maka terbukti kehidupan sosial yang hakekatnya adalah multikultural dapat menciptakan saling menghargai dati sebuah budaya pada dasarnya. Karena setiap tahun budaya cheng beng ini akan tetap dilaksanakan. Dengan bantuan orang melayu untuk membersihkan makam para leluhur mereka. Maka terbukti bahwa kehidupan sosial ini nyata ada.
Tradisi orang tionghoa memiliki banyak tradisi yang telah melekat dalam diri orang tionghoa sejak nenek moyang dahulu. Salah satunya adalah yang kita bahas adalah Cheng Beng ini. Cheng Ceng adalah salah satu tradisi tionghoa dengan cara ziarah ke makam leluhur dengan bertujuan untuk mengenang dan menghormati pada leluhur dan juga untuk kerabat, saudara, anak-cucu dengan tujuan cheng beng bisa berkumpul bersama dengan keluarga sehingga hubungan erta terjalin.
Cheng beng biasanya dilakukan setiap tahun pada tanggal 5 april . asal mula cheng beng bermula dari warga masyarakat tionghoa. Biasanya akan datang ke makam atau kuburan orang tua atau leluhur untuk membersihkan dan sekalian bershambayang di makam tersebut simbol membawa buah-buahan, kue-kue, makanan tradisi, serta karangan bunga.
Lalu mengapa di setiap kubur diatasnya disebarkan kertas perak atau kuning setiap kali dibersihkan. Karena konon menurut cerita rakyat asal mula ziarah kubur atau cheng beng ini berawal dari zaman kekaisaran zhu yuan zhang yaitu pendiri dinasti ming (1368-1644 M) zhu yuan zhang awalnya berasal dari sebuah keluarga yang sangat miskin. Karena itu dalam membersarkan dan mendidik zhu yuan zhang orang tuanya meminta bantuan sebuah kuil ketika dewasa zhu yuan zhang memutuskan untuk bergabung dengan pemberontakan sorban merah.
Sebuah kelompok pemberontakan anti dinasti yuan(mongol). Berkat kecakapannya dalam waktu singkat ia telah mendapat posisi penting dalam kelompok tersebut untuk kemudian menaklukan dinasti yuan 1271-1368 M sampai akhirnya beliau menjadi seorang kaisar setelah menjadi kaisar zhu yuan zhang kembali ke desa untuk menjumpai orang tuanya. Sesampainya di desa ternyata orang tuanya telah meninggal dunia dan tidak diketahui keberadaan makannya.
Kemudian untuk mengetahu keberadaannya makam orang tuanya sebagai seorang kaisar. Zhu yuan zhang memberi titah kepada seluruh rakyatnya untuk melakukan ziarah dan membersihkan makan leluhur mereka masing-masing pada hari yang telah ditentukannya. Selain itu diperintahkan juga untuk menaruh kertas kuning di atas masing-masing makam. Sebagai tanda makan telah dibersihkan setelah semua rakyat selesai berziarah kaisar memeriksa makam-makam yang ada di desa dan menentukan makam-makam yang belum dibersihkan serta tidak diberi tanda.
Kemudian kaisar menziarahi makam makam tersebut dengan berasumsi bahwa diantara makam-makam tersebut pastilah merupakan orang tuanya. Sanak keluarga, dan leluhurnya hal ini kemudian dijadikan tradisi setiap tahunnya. Meski sudah berbeda agama atau kepercayaan bukan berati sudah tidak perlu datang untuk sekedar sungkem atau sekedar melihat ke makam orang tua. Itu salah satunay bentuk kehidupan sosial dalam keluarga karena salah besar ziarah ke kuburan orang tua tidak ada hubungannya dengan memuja setan. Semua bisa menyesuaikan sesuai dengan keyakinan masing-masing.
Begitulah kehidupan sosial yang sebenar nya. Karena kita memiliki tujuan yang sama Cuma mana kala hanya jalan yang berbeda. Mari bersahabat dan saling menghargai satu sama lain untuk menciptakan terbentunya multikultural di Bangka belitung serta dunia luar. Karena hakekatnya adalah setiap budaya memiliki dalil nya masing-masing.
Cinta sosial, mewujudkan sebuah perbedaan. Keyakinan sebuah jalan yang sama. Untuk menuju inti sari yang sama. Jangan sok suci bila mana tak tau arti. Jangan menghina bila mana tak suka hati. Karena hidup saling menghargai. Walaupun budaya berbeda hari. Tapi jiwa tetap satu hati. Untuk kehidupan sosial abadi.
Ada yang berpendapat bahwa jika sudah masuk agama tertentu maka sudah tidak perlu pai atau shembayang ataupula sekedar untuk datang ke kubur orang tua kita. Karena kita layak menghadiri keluarga kita yang sudah dulu meningalkan kita. Makanya bentuk rasa sayang terhadap keluarga kita entah itu orang tua, kerabat kakak, adik. Kita sebagai kehidupan sosial menziarah mereka yang sudah dulu meningkalkan kita. Maka tak salahnya kita melakukan teradisi menurut budaya etnis itu bauk. Karena tujuan dari sebuah teradisi baik. Cuma jalannya yang sering kita pandang salah. Padahal yang salah itu diri kita bukan tradisinya. Kemudian peralatan yang digunakan untuk sembayang ada dupa atau kimchi (kertas kuning). Dan lilin. Dupa memiliki arti pengusir dari roh jahat dan malapetaka. Khimchi memiliki arti uang. Lilin memiliki arti sumber penerangan.
Dengan hal ini orang berbondong-bondong datang ke pemakaman untuk melakukan kegiatan cheng beng yang mempunyai arti ziarah ke makam leluhur seperti nenek moyang kita dan untuk memperkenalkan nenek moyang kita kepada anak cucu dan cicit kita agar mereka mengetahui bahwa ada nenek moyang yang harus dihormati dan juga untuk memberitahukan tentang tradisi cheng beng yang harus tetap dilestarikan sampai kapanpun. Setelah mereka melakukan sembayang kubur mereka harus menambahkan teh sebanyak tiga kali lalu mereka membakar kimchi yang dilingkar dengan air teh yang digunakan tadi.
Cheng beng adalah sesuatu yang harus dilestarikan di zaman sekarang ini. Supaya anak-anak kita tetap patuh pada adat istiadat yang telah dilakukan nenek moyang kita sejak dahulu. Chneg Beng ini juga tidak ada hubungan dengan penyembahan berhala jadi lakukanlah Cheng Beng ini karena cheng beng ini hanya satu kali dalam setahun. Dan hanya satu tahun sekalillah kita dapat mengenang tentang masa lalu kita dengan orang tua ataupun nenek kakek kita dahulu. Tutur kata indah menawan, jiwa tenang, memenang para pendahulu yang sudah lama menghilang. Menghilang seabagai tanda kehidupan sosial. Teradisi akan tetap dibudidayakan untuk para teradisi orang multikultural.






