Budidaya Kepiting Soka Antarkan Terminal Teluk Lamong Raih CSR & PDB Awards 2026
Jakarta, Persindonesia.com — PT Terminal Teluk Lamong (TTL) meraih penghargaan dalam ajang CSR & Pengembangan Desa Berkelanjutan (PDB) Awards 2026 melalui program pemberdayaan nelayan bertajuk Pengembangan Kelompok Budidaya Kepiting Soka. Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi terhadap upaya perusahaan dalam memberdayakan masyarakat sekaligus mendorong pembangunan berkelanjutan di sekitar wilayah operasionalnya.
Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal bersama Indonesian Social Sustainability Forum (ISSF) menggelar CSR & PDB Awards 2026 di Gedung Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Jakarta, Senin (29/9/2026).
Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Dr. Tb. Haeru Rahayu, A.Pi., M.Sc., menyerahkan penghargaan tersebut kepada Dahlia Permata Sari, Manager Komunikasi Korporasi PT Terminal Teluk Lamong, yang mewakili perusahaan. Program Pengembangan Kelompok Budidaya Kepiting Soka menyasar kelompok nelayan di wilayah Ring 1 TTL. Program tersebut mencakup Kelurahan Romokalisari dan Tambak Osowilangun, Kota Surabaya, serta Kelurahan Tenggulunan, Kabupaten Gresik. TTL menjalankan program dalam dua tahap, yakni Tahap I pada periode 2024–2025 dan Tahap II pada periode 2025–2026.
Perusahaan mengembangkan program berdasarkan pemetaan kebutuhan masyarakat. TTL mendorong nelayan mendapatkan alternatif mata pencaharian, meningkatkan pendapatan rumah tangga, memanfaatkan potensi sumber daya pesisir, serta memperkuat keterampilan dan kapasitas kelompok. TTL kemudian mengembangkan budidaya kepiting soka menggunakan sistem apartemen kepiting yang menyesuaikan dengan kondisi masyarakat pesisir.
Dalam pelaksanaannya, TTL memberikan sarana budidaya sekaligus melakukan pendampingan dan monitoring secara berkala. Kelompok pembudidaya, masyarakat, pendamping program, pemerintah kelurahan, dan perusahaan turut terlibat dalam proses tersebut. Kolaborasi itu membantu para pihak memantau perkembangan program, mengidentifikasi kendala, serta menyusun langkah tindak lanjut untuk meningkatkan keberlanjutan usaha budidaya.
TTL juga mengukur dampak program secara independen. Pada Tahap I, evaluasi Social Return on Investment (SROI) yang dilakukan pihak ketiga mencatat total dampak sosial sebesar Rp939,075 juta dengan nilai SROI 4,92. Angka tersebut menunjukkan setiap Rp1 investasi program menghasilkan nilai sosial sebesar Rp4,92. Pengukuran SROI mencakup dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan yang muncul dari pelaksanaan program.
Selain itu, pengukuran Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) menghasilkan nilai 3,73 atau 93,24 dengan mutu kinerja A atau sangat baik. Pengukuran tersebut mencakup tahap perencanaan, implementasi, hingga hasil program.
Memasuki Tahap II, TTL terus memperkuat pendampingan teknis kepada kelompok pembudidaya. Evaluasi program menunjukkan kelompok semakin mandiri dalam menjalankan operasional budidaya serta semakin baik dalam mengelola kualitas air dan sarana budidaya.
Corporate Communication Manager PT Terminal Teluk Lamong, Dahlia Permata Sari, mengatakan perusahaan tidak hanya mengejar terlaksananya kegiatan pemberdayaan, tetapi juga mendorong masyarakat agar mampu mempertahankan manfaat program secara mandiri.
“Bagi kami, keberhasilan program pemberdayaan bukan hanya dilihat dari terlaksananya kegiatan, tetapi dari sejauh mana masyarakat mampu mengambil peran dan melanjutkan manfaat program secara mandiri. Karena itu, kami mendorong penguatan kapasitas kelompok, tata kelola usaha, dan pendampingan yang dilakukan secara bertahap,” ujar Dahlia.
Sementara itu, Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya KKP Tb. Haeru Rahayu mengapresiasi inovasi dan program pemberdayaan yang dikembangkan dunia usaha untuk mendukung sektor perikanan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada perusahaan-perusahaan yang terus menghadirkan inovasi dan program nyata bagi masyarakat. Kolaborasi seperti ini penting untuk mendorong pengembangan usaha perikanan budi daya, meningkatkan kapasitas masyarakat, serta menciptakan manfaat ekonomi yang berkelanjutan,” kata Haeru.
Bagi TTL, penghargaan CSR & PDB Awards 2026 menjadi apresiasi terhadap proses pemberdayaan yang perusahaan bangun bersama masyarakat pesisir.
TTL berkomitmen memperkuat pelaksanaan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) dengan mengacu pada kebutuhan masyarakat, dampak yang terukur, dan peningkatan kemandirian penerima manfaat.
Melalui pengembangan potensi lokal, peningkatan kapasitas, serta kolaborasi dengan pemerintah dan masyarakat, TTL terus mendorong agar manfaat program dapat berlangsung dalam jangka panjang dan dikelola secara mandiri oleh masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan. (Red-Wied timsby)






