Tangerang,Persindonesia.com – Uang insentif Kader Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Desa Kiara Payung Kecamatan Pakuhaji Kabupaten Tangerang diduga dipotong istri ketua PKK yang juga istri Kepala desa (Kades). Kades meminta kader PKK agar melaporkan siapa yang melakukan pemotongan insentif kader PKK dan mengancam akan membombardir tersangka.
R inisial salah satu kader posyandu,ia menerangkan, kejadian tersebut berawal dari cairnya insentif Kader PKK yang dikatakan Oknum Ketua PKK bernilai Rp.1000.000 dan dipotong Rp.300.000 dengan alasan untuk biaya administrasi .
Selai uang insentif yang dipotong,Y merasa dibohongi oknum ketua PKK. saat di lakukan pengecekan di bang ternyata insentif tersebut bernilai Rp1.500.000.
“Awalnya saya percaya yang dibilang oknum Y, kalau uang insentif yang diambilnya di ATM Rp1 juta, tapi begitu saya ambil ATM dan buku tabungan terus diprint. Saya kaget, ternyata uang insentif milik saya yang diambil Y Rp1,5 juta, bukan Rp1 juta,” kesal salah satu Kader PKK inisial R, Rabu (3/6/21).
Pemotongan tersebut dikatakan untu biaya administrasi yang diserahkan untuk oknum LSM ,Operator bang,Kecamatan serta kegiatan PKK.
“Waktu cair pertama kali, saya dan teman-teman cuma nerima uang insentif Rp700 ribu, padahal yang ditarik dari ATM Rp1,5 juta, saya lihat diprinan buku tabungan, kita sempat bertanya untuk apa uangnya dipotongin, kata oknum untuk ngurus operator bank, kecamatan, lsm dan acara,” ungkapnya.
Karena merasa kecewa dengan ulah oknum yang mengulangi kembali perbuatannya. Lantas R mengajukan pengunduran diri menjadi Kader PKK Kiara Payung.selain itu, ia sangat menyesalkan perbuatan oknum yang semula berjanji tidak memotong lagi uang insentif PKK.
“Setelah saya tahu perbuatan oknum tidak benar, lalu saya keluar dari PKK Kiara Payung, awalnya saya sempat dilarang keluar sama oknum, karena saya keras ingin keluar, akhirnya diperbolehkan oleh oknum,” ungkapnya.
Selain R, Kader PKK Kiara Payung lainnya inisial JN mengaku kecewa terhadap ketua PKK yang sudah memotong haknya tanpa ijin. Kemudian JN memilih mengambil ATM dan buku tabungannya dari tangan ketua PKK, untuk mencairkan uang insentif itu sendiri.
“Terus terang, saya juga merasa dibohongin, waktu pencairan pertama saya cuma dikasih Rp700 ribu. Kalau sekarang saya cairin uang sendiri, tapi masih aja ditagih Rp200 ribu sama Y waktu rapat, ada pak kades juga, alesannya buat operator bank, kecamatan dan LSM,” lugasnya.
Hal yang sama diucapkan kader PKK Kiara Payung lainnya berinisial TS, juga merasa dibohongi seperti kader yang lain nya, Kemudian ia mengambil ATM juga buku tabungan yang dipegang ketua PKK.
“Saya juga sama waktu cair pertama cuma terima uang Rp700 ribu, mungkin insentif saya Rp1,5 juta seperti punya teteh Ratna, ATM dan buku tabungan sudah saya ambil mau diprint biar tahu jumlah insentifnya, saya juga ditagih Rp200 ribu,” cetusnya.
Sementara itu, Kepala Desa Kiara Payung, Mudarip saat dikonfirmasi melalui telpon whats app meradang, Mudarip meminta kader posyandu yang merasa kecewa agar datang menemui dirinya, untuk menanyakan siapa yang memotong uang insentif tersebut.
“Dipotongnya sama siapa, kata siapa uang insentif dipotongin, kalau memang dipotongin yang bersangkutan suruh berhadapan dengan saya, ya uda-ya uda konfirmasi sama saya, diakan pegang ATM masing-masing, dipotongin sama orang bukan, saya bom bardil tuh orang,” tandasnya.(tim)






